Dari data yang dipaparkan oleh Asosiasi Pengeambang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (ASPIMTEL), tahun 2014 lalu saja telah terjadi lebih dari seribu kasus pencurian perangkat telekomunikasi. Jumlah itu sangat mungkin bakal meningkat karena sampai bulan April tahun 2015 ini kasusnya sudah mencapai 50% dari tahun 2014 lalu.
Sementara itu dari penuturan Direktur Service Management XL Ongki Kurniawan, XL sudah menjadi korban tindak kejahatan BTS sejak tahun 2013 lalu. Kasusnya pun bermacam-macam, mulai dari pencurian radio modul, baterai, hingga kabel feeder yang letaknya di atas sekalipun.
"Kalau pencurian kabel feeder ini jumlahnya cukup banyak, kalau dihitung dari tahun-tahun sebelumnya jumlahnya bisa ratusan. Sementara untuk radio modulnya sendiri kira 5 sampai 10 kasus pencurian dalam sebulan. Ini benar-benar kejahatan yang serius," ujar Ongki kepada detikINET ketika berada di Padang, Sumatera Barat, Jumat (29/5/2015).
Padahal sejatinya kabel feeder milik XL ini tak lagi menggunakan tembaga sebagai bahan materialnya. "Yang mereka cari dari kabel feeder ini kan tembaganya. Kebetulan kami sudah menggantinya dengan alumunium. Tapi ya namanya orang, dia berpikir kalau itu masih tembaga tetap ia potong. Begitu diperiksa ternyata alumunium, dibuang lah itu kabel," papar Ongki.
Lalu ke manakah larinya perangkat-perangkat BTS itu? Pihak XL pun penasaran dan sempat menelusuri peredaran barang curian BTS ini ke beberapa marketplace dan forum jual beli online, dan ternyata memang ada penadahnya.
Agus Simorangkir, VP Project Managemen XL Axiata akhirnya berhasil mendapatkan radio modul di forum jual beli online. Setelah dirunut-runut, ternyata barang yang ia beli merupakan hasil curian dari BTS milik XL. Sayangnya, pihak XL kala itu tidak melakukan investigasi lebih lanjut.
Tak hanya geram, Ongki pun pada dasarnya merasa heran dengan pencurian radio modul. Pasalnya, tidak semua radio modul itu bisa cocok dipasangkan dengan BTS milik operator lain. "Harusnya sih begitu. Sebenarnya kan beda brand itu berpengaruh. Tidak bisa itu misalnya radio modul mereknya Huawei terus dipasangkan dengan Ericsson belum tentu cocok," jelas Ongki.
XL sendiri saat ini sudah memiliki jumlah BTS sekitar 52 ribu yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk mengamankan asetnya itu, seperti memperkerjakan satpam untuk induk BTS atau memberi pagar kawat untuk BTS biasa.
"Kami juga sudah meminta tolong warga sekitar untuk melihat kondisi. Cuma kan namanya maling, kadang-kadang mereka bawa senjata. Nah, kalau sudah begitu satpam kami imbau untuk safety first," ucap Ongki.
Maka dari itu, lanjut Ongki hal ini tentu membutuhkan dukungan penuh dari Polri, dimana pada tanggal 27 Mei 2015 kemarin sudah dilakukan penandatangan kerjasama antara ATSI-ASPIMTEL dengan Polri.
"Sebenarnya hal ini sudah dicanangkan dari akhir tahun 2013, dimana kala itu antara ATSI dan Polri era kepemimpinan Sutarman memang telah melakukan penjajakan membahas masal ini. Cuma ya baru terealisasi sekarang," pungkas Ongki.
(Ardhi Suryadhi/Ardhi Suryadhi)