Menurutnya, hal itu dikarenakan setiap tahunnya ada lebih dari 300 ribu permintaan Izin Stasiun Radio (ISR) dari para operator yang kurang lebih 85% di antaranya dilayani dengan cara semi manual melalui interface manusia.
Padahal, kata menteri, perizinan ini melibatkan uang yang sangat besar. Khususnya untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang berkisar Rp 1,1 triliun.
"Itu sebabnya, dengan bertambahnya pembangunan BTS (2G), Node B (3G), eNode B (4G), maka permintaan ISR akan makin tinggi," jelas menteri yang akrab disapa Chief RA itu kepada detikINET, Rabu (20/5/2015).
Β
Dengan teknologi M2M ini, lanjutnya, big client (misalnya operator) bisa langsung apply dari kantornya. Langsung dicek ketersediaan serta analisis teknis. Apabila tersedia, client bisa bayar langsung ke bank (sementara Mandiri) dan sertifikat ISR bisa langsung dicetak di client
"Teknologi ini bisa mengurangi kemungkinan adanya kesalahan manusia. Lebih efisien. Pelayanan juga meningkat," tegas Rudiantara.
Lebih lanjut dijelaskan, penggunaan teknologi M2M ini merupakan bagian dari strategi Peningkaran Pelayanan Perizinan, setelah 8 Peraturan Menteri Kominfo tentang Peningkatan Pelayanan yang diterbitkan akhir Januari 2015.
"TelkomSigma membantu mengembangkan aplikasi di sisi Kominfo. Client bebas mengembangkan aplikasi di sisi masing-masing berdasarkan standar Kominfo," pungkas Menkominfo.
(Achmad Rouzni Noor II/Ardhi Suryadhi)