Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Spectrum Sharing Butuh Regulasi yang 'Aman'

Spectrum Sharing Butuh Regulasi yang 'Aman'


- detikInet

BTS 3G (ari/detikfoto)
Jakarta - Terbatasnya spektrum frekuensi yang tersedia membuat operator telekomunikasi yang sudah terlalu banyak jumlahnya di Indonesia kerap kesulitan untuk mengembangkan jaringan layanan saat hendak berekspansi.

Itu sebabnya, wacana untuk menggunakan frekuensi bersama alias spectrum sharing pun disambut baik oleh para operator, khususnya operator seluler seperti XL Axiata dan Telkomsel yang ingin segera upgrade teknologi menuju era generasi keempat (4G).

"Spectrum sharing menurut saya sangat memungkinkan dan sangat bagus. Di tujuh negara seperti di Inggris, Prancis, Australia sudah pernah dicoba, tidak ada masalah," kata Hasnul Suhaimi, Presiden Direktur & CEO XL Axiata di acara Jakarta Marketing Week 2013, Kota Kasablanka, Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasnul menjelaskan, jika seluruh operator mau sama-sama berbagi pakai dengan frekuensi yang ada saat ini maka peluang untuk mengembangkan teknologi untuk bisnis telekomunikasi akan semakin terbuka lebar.

"Misalnya saja, di jalan raya ada dua jalan dengan pembatas di tengah. Kalau itu dibuka kan jadi lebih efisien frekuensinya. Sementara kewajibannya tetap masing-masing," kata dia.

Namun dengan adanya kasus frekuensi yang menimpa Indosat dan anak usahanya, Indosat Mega Media (IM2), wacana penggunaan frekuensi bersama menjadi isu sensitif. Alih-alih untuk tujuan efisiensi, salah-salah malah bisa dituduh korupsi.

"Itu dia harus ada dukungan regulasi yang pas supaya tidak ada masalah hukum yang timbul di kemudian hari. Perlu regulasi yang aman, baik itu dari sisi legal maupun bisnis," papar Hasnul.

Selain XL, operator seluler lainnya yang juga ingin ada kebijakan spektrum frekuensi adalah Telkomsel. Anak usaha Telkom ini sempat melontarkan wacana itu sebelum mendapatkan tambahan kanal 3G di 2,1 GHz.

Sementara dari sisi vendor jaringan yang belakangan getol untuk mendorong spectrum sharing adalah Qualcomm dan Ericsson.

Wacana spektrum bersama ini juga pernah dilontarkan oleh para operator untuk memanfaatkan frekuensi 800 MHz yang ditempati oleh para penyedia layanan berbasis teknologi CDMA seperti Telkom Flexi, Bakrie Telecom (Esia), Indosat StarOne, dan Mobile-8 Telecom (Smartfren).

Dengan stagnannya bisnis telekomunikasi CDMA, frekuensi yang ditempati oleh keempt operator itu jika digabungkan, bisa dimanfaatkan bersama-sama untuk menggelar layanan 4G berbasis teknologi Long Term Evolution (LTE).

Layanan LTE memang membutuhkan spektrum ideal 20 MHz. Dan itu ada di 800 MHz yang saat ini masih ditempati oleh masing-masing operator yang menggunakan dua kanal dengan lebar pita 5 MHz.

"Kita tertarik adopsi LTE, tapi kapan waktunya masih belum jelas, masih cukup lama. Karena regulasinya juga belum ada. Tapi yang jelas, kita siap untuk ke sana karena tren penggunaan data meningkat. Jadi kita hrus ke sana juga," kata Eka Anwar, Chief Marketing Officer Bakrie Telecom.

(rou/rou)





Hide Ads