Namun, penawaran tarif yang lebih rendah itu seakan jadi kurang menarik karena perubahan tren dan perkembangan teknologi yang lebih mengarah kepada layanan data.
Jika dulunya operator seperti Bakrie Telecom sudah merasa cukup puas dengan pendapatan per pelanggan atau ARPU (average revenue per user) dari voice call, kini tidak lagi. Karena ARPU voice dan SMS mulai stagnan, bahkan cenderung turun, sementara ARPU data tumbuh pesat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang, jika dilihat dari porsinya, pendapatan dari voice dan SMS masih mendominasi. Karena dari total 11,98 juta pelanggan Esia di kuartal ketiga 2012, pelanggan data baru 4% atau sekitar 474 ribu. Sisanya masih didominasi voice dan SMS.
"474 ribu pelanggan data ini merupakan peningkatan 30% dari kuartal sebelumnya dan peningkatan 85% dari tahun sebelumnya. Sedangkan total subscriber cuma tumbuh 4,5% dibanding kuartal lalu," paparnya.
Jika melihat dari jumlah ARPU data, yang katanya jauh lebih tinggi dibanding voice dan SMS, sudah tentu harapan Btel saat ini mulai digantungkan pada pendapatan dari layanan data yang sudah berbasis EVDO.
Bahkan dalam dua bulan yang tersisa di tahun ini, operator milik grup Bakrie ini masih ingin mengejar tambahan satu hingga dua juta pelanggan lagi untuk data. Salah satu caranya dengan kerja sama bundling smartphone Android bersama ZTE.
Btel juga mengaku tidak punya masalah dengan ketersediaan spektrum frekuensi yang terbatas. Menurut Satyadev, layanan data dengan EVDO masih bisa beroperasi dengan lancar di tiga kanal yang tersedia di 800 MHz.
"Saya rasa tidak ada masalah. Kami masih sanggup melayani pelanggan kami yang mengakses data dari smartphone dan dongle-nya. Pengguna dongle kami lancar-lancar saja mengakses data, rata-rata mereka menghabis kuota 2GB sampai 2,5GB setiap bulannya," pungkas Satyadev.
(rou/ash)