Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
OTT Ancam Gerus Pendapatan Operator Rp 555 Triliun

OTT Ancam Gerus Pendapatan Operator Rp 555 Triliun


- detikInet

Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Geliat pemain OTT (over-the-top) dalam menyediakan layanan messaging ternyata sangat mengancam pendapatan operator. Riset yang dilakukan Ovum secara global, layanan OTT sangat berpotensi merugikan operator telekomunikasi hingga USD 58 miliar atau sekitar Rp 555 triliun.

Potensi hilangnya pendapatan itu dihitung Ovum sejak anjloknya layanan SMS yang mulai digerogoti oleh messaging OTT seperti Whatsapp, BlackBerry Messenger, Skype, Line, Yahoo Messenger, Gtalk, textPlus, Pinterest, bahkan Facebook dan Twitter.

Di tahun 2012 ini saja, dalam hitung-hitungan Ovum, revenue operator dari SMS di seluruh dunia telah anjlok USD 23 miliar atau sekitar Rp 220 triliun. Potensi kerugian itu masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan dan puncaknya akan mencapai USD 58 miliar atau sekitar Rp 555 triliun di 2016 nanti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disebutkan oleh Ovum, operator yang akan sangat terpukul dengan gelombang pesat OTT messaging ini adalah operator di Eropa dan Asia Pasifik, termasuk Indonesia tentunya.

"Layanan social messaging menjadi lebih luas, dan operator di bawah tekanan yang berat untuk mendorong pendapatan dari komponen bisnis komunikasi text messaging mereka," kata Neha Dharia, Ovum consumer telecoms analyst yang detikINET kutip dari telecomasia, Jumat (12/10/2012).

OTT sendiri bisa didefinisikan sebagai penyedia layanan yang menumpang untuk memasarkan aplikasi di atas jaringan operator telekomunikasi. Saat ini nama-nama besar yang bermain di OTT antara lain Google, Microsoft, Apple, Yahoo, Facebook, Research In Motion, dan lainnya.

Dalam peta bisnis jaringan, para pemain OTT berada di layer dua teratas yakni penyelanggara layanan aplikasi dan penyelenggara layanan aplikasi konten.

Menurut banyak analis perusahaan telekomunikasi, penghasilan terbesar tidak lagi dimiliki oleh penyelenggara jaringan telekomunikasi seperti pada masa lalu, tetapi penghasilan kian banyak dinikmati oleh para OTT.

Penurunan pendapatan operator karena OTT juga sudah terjadi di Indonesia dengan terus turunnya jasa telekomunikasi tradisional seperti voice dan SMS. Kondisi ini bahkan ikut mendorong pasar mengalami kejenuhan (saturated market).

Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo, Muhammad Budi Setiawan, juga merasakan kekhawatiran operator akan geliat OTT sejak tahun lalu. "Permasalahan ini sudah menjadi concern global. Tahun lalu sudah muncul, dan sekarang kian menajam," ungkapnya beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pengamatannya, pihak operator cenderung menyalahkan OTT yang mengawali bisnis ini dengan memberikan user serba gratis dan bergantung pada iklan. Sementara OTT selalu berpendirian mereka juga punya kontribusi menarik user sebagai subscriber telco dan merasa telah ikut menguntungkan operator.

"Solusi yang saya pikir menarik dan fair adalah menerapkan semacam interkoneksi antara telco operator dan OTT. Teknis detailnya masih perlu dipelajari lagi. Sementara penerapannya di Indonesia, tentu harus menunggu inisiasi yang dijalankan secara global," papar Budi.

Jika solusi interkoneksi ini diperlukan pada saatnya, menurut dia, maka penerapan business to business (B2B) antara operator telekomunikasi di Indonesia dan perusahaan OTT yang ada di luar negeri, atau sudah punya badan usaha di Indonesia, harus dalam kerangka regulasi nasional dengan memperhatikan perkembangan global.

(rou/ash)




Hide Ads