Seperti diketahui, dari dua kanal yang tersedia di blok 11 dan 12, diakui Menkominfo Tifatul Sembiring, blok 12 masih terpengaruh interferensi sinyal dari layanan seluler CDMA milik Smart Telecom.
"Kanal 12 yang interference bocor akan kami minta garansi kepada Smart agar dibenahi. Meskipun bocornya sedikit, tapi kan bisa mengganggu performa di kanal 12," kata Tifatul usai pembukaan Rakornas Kominfo 2012 di Puri Agung Hotel Sahid, Jakarta, Senin (11/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti dari Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi menilai, Kominfo memang sudah seharusnya mempercepat lelang. Sebab, permasalahan interferensi di blok kanal 12 bukan jadi isu utama lagi untuk alasan menunda-nunda tender.
"Meskipun masih ada interferensi dari sinyal yang dikeluarkan Smartfren, kanal 11 dan 12 masih bisa dipakai asal PCS dikurangi kekuatan power output-nya. Lalu diberi penambahan filter RX di UMTS untuk kanal terutama di blok 12," kata Heru yang pernah menjabat anggota BRTI selama dua periode.
Namun untuk pembersihan kanal di blok 12 itu dinilai tak semudah membayar Rp 2,5 juta saja --untuk filter yang harus dipasang di RX-nya UMTS -- karena itu per sektor. Sebab, di setiap pemancar 3G (BTS Node B) ada empat sektor yang harus dipasangi filter.
Artinya, jika misalnya ada 10 ribu Node B yang menggunakan kanal kotor di blok 12 -- dikalikan empat filter senilai Rp 2,5 juta -- biaya yang dibutuhkan ditaksir bisa mencapai Rp 10 miliar.
Dirjen Sumberdaya dan Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo, Muhammad Budi Setiawan, mengaku tak setuju dengan hitung-hitungan filtering itu. "Itu kan tidak di semua BTS, yang head to head saja, dan itu sedikit. Artinya, nggak semua butuh difilter," tandasnya.
(rou/rou)