Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Menkominfo: SMS Interkoneksi Kemahalan? Itu Lebay!

Menkominfo: SMS Interkoneksi Kemahalan? Itu Lebay!


- detikInet

Menkominfo Tifatul Sembiring (detikfoto)
Jakarta - Penerapan SMS interkoneksi berbasis biaya yang ditetapkan Rp 23 per SMS lintas operator, bagi beberapa operator dinilai masih kemahalan. Hanya saja hal itu ditanggapi sinis oleh Menkominfo Tifatul Sembiring.

"Biaya terminasi dinilai terlalu mahal? Kalau boleh saya katakan itu lima echo bravo alfa yengky alias lebay. Itu biaya terminasi tidak otomatis akan naik Rp 23 di konsumen dari yang biasanya Rp 0 itu," terang Tifatul, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (11/6/2012).

Tifatul mempersilakan operator apakah masih ingin menerapkan kebijakan SMS gratis lintas operator tersebut atau membebankan biaya Rp 23 per SMS tersebut ke konsumen. Yang pasti, operator tidak hanya mendapatkan keuntungan dari SMS, tapi juga dari data, voice dan lain sebagainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebijakan ini, menurut Tifatul, sejatinya menyelesaikan beberapa persoalan. Misalnya operator besar dengan pelanggan 100 juta ke atas tidak ingin dibebankan dengan SMS dari operator yang hanya 5 juta pelanggan saja.

"Jadi gini, operator dengan pelanggan 5 juta tentu saja jaringannya yang dibangun kecil, berbeda operator dengan pelanggan yang 100 juta. Dimana jaringan yang dibangun besar. Dan (operasional dan pembangunan) jaringan ini kan pakai biaya. Nah, operator kecil ini, isu yang dikembangkan itu inginnya pakai jaringan besar dengan gratis," tegasnya.

Rp 23 per SMS inilah yang dianggap bisa menciptakan kebijakan yang lebih adil. Di samping tentunya juga untuk meredam SMS spam yang saat ini sedang marak digunakan.

"Tidak ada SMS gratis itu bagus, tapi kalau operator mau meneruskan SMS gratis ya silakan. Kita tidak mengatur konsumen yang kita atur operatornya," tandasnya.

Tifatul menambahkan, pada dasarnya ketika pelanggan operator A mengirimkan SMS ke operator B maka ada biaya Rp 23 per SMS yang harus diserahkan ke operator B. Jika operator A mau membebankan Rp 23 ke konsumen atau tidak, itu dikembalikan lagi ke masing-masing operator.

Seperti diketahui skema SMS interkoneksi berbasis biaya (cost based) sudah resmi menggantikan skema Sender Keep All (SKA) per 1 Juni 2012 lalu. Jadi kini, operator si penerima SMS juga akan mendapat pemasukan dari pesan yang dikirim. Berbeda ketika dengan skema SKA, operator si penerima SMS tidak mendapat apa-apa. Padahal jaringannya sudah digunakan untuk menerima SMS.

Interkoneksi sendiri merupakan salah satu komponen biaya yang jatuh ke konsumen. Dimana komponen biaya retail terdiri biaya interkoneksi + retail activity + margin profit.

(ash/ash)





Hide Ads