Tifatul: SMS Gratis Menarik, Tapi Sering Disalahgunakan

Tifatul: SMS Gratis Menarik, Tapi Sering Disalahgunakan

- detikInet
Kamis, 31 Mei 2012 17:35 WIB
Ilustrasi (hasan/detikfoto)
Jakarta - Menkominfo Tifatul Sembiring ikut angkat bicara soal diterapkannya skema SMS interkoneksi berbasis biaya yang menggantikan skema Sender Keep All (SKA). Hal ini salah satunya untuk menekan laju spam yang meresahkan.

Tifatul sendiri bukan tidak mendukung adanya SMS gratis dan murah. Hanya saja, menteri yang gemar berpantun ini melihat bahwa perang promosi SMS gratis kerap disalahgunakan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Sistem SKA yang berlaku selama ini telah menciptakan iklim usaha telekomunikasi yang kurang sehat. Contohnya antar penyelenggara terjadi perang promosi SMS, gratis SMS, sekilas menarik," kata Tifatul.

"Lantas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan fasilitas ini yang justru merugikan orang lain seperti SMS Spam, penipuan, cyber crime dan lainnya. Bahkan penyelenggara sendiri sangat dirugikan sebab trafik tinggi, tapi pendapatan tidak ada. Akibatnya mutu pelayanan konsumen rendah sekali," ia menambahkan.

Hingga akhirnya regulator memutuskan untuk memberlakukan skema SMS interkoneksi berbasis biaya mulai 31 Mei 2012 pukul 23.59.59. Dengan tarif interkoneksi alias biaya terminasi SMS antar operator sebesar Rp 23 per SMS.

Biaya terminasi adalah biaya yang harus ditanggung operator pengirim SMS kepada operator penerima, karena telah menggunakan jaringan operator penerima. Landasan hukum dari kebijakan ini adalah UU 36/1999 tentang telekomunikasi dan PM 08/2006 tentang interkoneksi.

Adapun di sisi konsumen, tidak otomatis tarif SMS menjadi naik. Karena tergantung kepada strategi bisnis masing-masing operator.

"Mereka mau terus menggratiskan silakan saja, pemerintah tidak menetapkan tarif retail per SMS. Yang kita atur biaya terminasi (interkoneksi) antar operator, agar adil bagi seluruh penyelenggara," lanjut Tifatul.

Kebijakan ini sendiri sejatinya bukan barang baru. Tapi sudah disosialisasikan kepada para operator sejak akhir tahun 2011 lalu.

Pun demikian, Tifatul tidak menampik kemungkinan operator menghapus layanan SMS gratis. Sebab komponen biaya SMS terdiri dari tiga, yakni biaya interkoneksi (terminasi), biaya aktifitas retail dan profit operator.

"Jadi operator mau tetapkan biaya Rp 50 per SMS atau Rp 100 per SMS atau bahkan gratis, itu strategi mereka. Kan pemasukan operator yang lain baik voice maupun internet masih besar," pungkasnya.


(ash/fyk)