"Tentu (kebijakan) ini akan mempengaruhi biaya di sisi operator dan ada dampak ke tarif SMS, dan juga limitasi jumlah bonus SMS ke semua operator. Tetapi saya yakin tarif tidak akan naik banyak," kata Director and Chief Commercial Officer Indosat, Erik Meijer, kepada detikINET, Rabu (30/5/2012).
Biaya pengeluaran dari sisi operator bisa berupa memodifikasi storage, server, sistem billing, pengalokasikan dana untuk belanja modal, dan sistem interkoneksinya masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski harus mengeluarkan investasi yang cukup besar, namun pola SMS cost based ini dianggap lebih adil bagi semua operator dan bisa menekan pengiriman SMS spam sebagai dampak dari penawaran bonus SMS gratisan yang tak terhingga dari para operator saat gencar promosi.
"Saya tidak tahu soal perasaan orang. Soal limitasi jumlah bonus SMS off-net saya yakin yang akan merasakan dampaknya hanya orang-orang yang suka spam. Regular usage tidak terlalu terpengaruh. Soal tarif ya kenaikan pasti inline dengan tarif interkoneksi. Jadi nggak bicara ratusan rupiah lah," jelas Erik.
Berbeda dengan Indosat, Bakrie Telecom yang menyelenggarakan layanan fixed wireless access (FWA) tetap berupaya mempertahankan skema tarif yang lama. "Kami belum ada perubahan di pentarifan SMS. Masih tetap sama," kata Direktur Bakrie Telecom, Rakhmat Junaidi.
Menkominfo Tifatul Sembiring sebelumnya menegaskan bahwa tidak akan ada kenaikan tarif SMS sejak diberlakukannya skema tarif interkoneksi cost based.
"Itu tidak benar, tidak akan ada kenaikan tarif. Yang ada antaroperator hanya akan menyesuaikan billing mereka secara B2B (business to business). Jadi isu kenaikan itu tidak benar," pungkasnya.
(rou/fyk)