Alhasil, sang CEO Sprint Nextel, Daniel Hesse, terpaksa merelakan tunjangan tahunannya dipotong untuk menutupi pengeluaran besar perusahaannya.
Seperti diwartakan Reuters, Selasa (8/5/2012), Hesse merelakan insentifnya USD 346 ribu dipotong demi ikutan nombok akibat terlalu besarnya biaya yang dikeluarkan operator seluler terbesar ketiga di Amerika Serikat itu untuk bundling iPhone terbaru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sprint harus membayar USD 15 miliar saat membundling nomor selulernya dengan iPhone sejak Oktober 2011 lalu. Nah, supaya cepat balik modal, Hesse pun menginstruksikan perusahaannya agar berani jor-joran menawarkan paket bundling ini.
Dibandingkan dengan bundling ponsel lainnya, Sprint menawarkan subsidi 40% lebih besar untuk paket berlangganan iPhone. Dengan subsidi USD 200 per handset, sekitar Rp 1,8 juta, operator ini tentu berharap bakal dapat gantinya dari melonjaknya akuisisi pelanggan baru.
Namun yang terjadi malah sebaliknya. Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Sprint pun mencatatkan kerugian besar, yang pada akhirnya berbuntut kecaman para investor. Maka sebagai bentuk tanggung jawabnya, bos Sprint pun terpaksa merelakan tunjangannya dipotong.
(rou/fyk)