Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ada Persaingan Politik di Pengusutan Kasus Pencurian Pulsa?

Ada Persaingan Politik di Pengusutan Kasus Pencurian Pulsa?


- detikInet

Jakarta - Persaingan di bisnis content provider (CP) begitu ketat. Hingga pada akhirnya memunculkan tendensi untuk menyerang CP pesaing. Hal inilah yang dirasakan pemilik short code 9393, PT Extent Media Indonesia, yang kini tengah terseret kasus pencurian pulsa.

Nama CP Extend sendiri berada di posisi teratas sebagai nomor short code SMS premium yang paling banyak dikeluhkan pelanggan melalui contact center 159 yang dioperasikan oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Terkait hal itu, pihak Extent yang diwakili Dirut Yusuf Khyber Hasnoputro memiliki pembelaan. "Untuk kasus ini kami merasa difitnah, ini persaingan antar CP," ungkapnya, di sela RDP dengan Panja Pencurian Pulsa Komisi I DPR RI, Kamis (12/1/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yusuf mengaku, CP yang digawanginya tidak masuk dalam laporan di Bareskrim Mabes Polri. Namun isunya pihaknya didatangi beserta tuduhan-tuduhan lainnya.

"Mungkin karena kevokalan saya, saya kurang disukai. Terlebih saat bikin Extend Media -- dengan bisnis model barunya -- akhirnya sukses. Jadi banyak yang iri dan memfitnah," lanjut suami pedangdut Liza Natalia itu.

Dijelaskannya, Extend didirikan pada tahun 2004 lalu. Kemudian pada tahun 2010 mereka melihat peluang mobile advertising. Bisnis mobile advertising yang dijalankan Extend beroperasi dengan membeli slot dan inventory.

"Kami cuma media agency, reseller. Karena perkembangan bisnis, kami disuruh membuka short code oleh Telkomsel. Nah, saat buka short code, akhirnya kami dianggap CP, padahal bukan," imbuh Yusuf.

Untuk diketahui, selain pebisnis layanan premium, Yusuf juga aktif di Partai Demokrat. Ia saat ini menjabat sebagai salah satu Ketua Biro di DPP Demokrat.

Tak pelak, dugaan adanya persaingan politik dalam kasus pengusutan pencurian pulsa ini pun menyeruak. Namun untuk kemungkinan itu, Yusuf enggan berpolemik. "Entah jika ada persaingan politik," tukasnya.

Yang pasti, dikatakannya, ini sebagai proses demokrasi dan ia pun memiliki hak untuk dilindungi. "Bisa lihat siapa yang menyerang saya. Pembunuh saja punya hak untuk dibela. Ini pengadilan politik," pungkas Yusuf.


(ash/ash)







Hide Ads