Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Nilai Konten Lebih Tinggi dari Infrastruktur'

'Nilai Konten Lebih Tinggi dari Infrastruktur'


- detikInet

Jakarta - Biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan infrastruktur saat memasuki era triple play -- akses jaringan yang menyediakan layanan internet, televisi, suara, dan lainnya -- tak lagi tinggi seperti sebelumnya. Kini yang menjadi tantangan adalah menyediakan konten berkualitas.

"Di bisnis triple play, bandwidth turun. Sementara konten makin mahal. Untuk mendapatkan konten seperti film-film asing musti pintar-pintar nego," kata Dicky Moechtar, Direktur Penjualan First Media, di Kemang Village Residence, Jakarta, Senin (13/6/2011).

Untuk membangun akses jaringan ke pelanggan, kata Dicky, kini hanya diperlukan investasi sekitar USD 30 per unit. Sementara sharing revenue konten dengan pihak asing terus membumbung tinggi dengan persentase 40:60.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Makanya sekarang yang perlu didorong itu konten dalam negeri. Sebab, ke depan barang engineering turun, sementara barang kreatif naik terus. Nilai tambah ekonominya tinggi," ujarnya.

"Kalau ada startup lokal mau tampil dan tak punya media untuk menayangkan kontennya, silakan datang ke First Media. Seperti film indie, mereka harus dikasih kesempatan. Untuk menyaingi konten asing, kita juga harusnya ada tayangan seperti ESPN lokal atau HBO Indonesia," lanjut Dicky.

First Media sendiri tengah menyiapkan peluncuran layanan Video on Demand (VoD) berbasiskan teknologi High Definition (HD) dalam waktu dekat. Itu sebabnya, perusahaan ini merasa perlu meningkatkan konten-konten menarik. Tak hanya dari asing, tapi juga konten dalam negeri.

Saat ini persiapan yang tengah dilakukan First Media ialah menginvestasikan server untuk menyimpan konten library dan broadcasting untuk mendistribusikan siaran VOD HD miliknya.

(rou/rns)







Hide Ads