Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari Kuala Lumpur
Indonesia Butuh e-Leadership!
Laporan dari Kuala Lumpur

Indonesia Butuh e-Leadership!


- detikInet

Kuala Lumpur - Indonesia butuh pemimpin yang punya visi e-leadership jika tak mau jauh tertinggal dan kalah bersaing dibandingkan negara-negara lain. Negara ini perlu pemimpin yang punya visi jelas untuk memandu pembangunan jaringan pita lebar (broadband) sebagai tulang punggung infrastruktur telekomunikasi bangsa.

Dalam ajang Broadband Transformation Summit 2011, hampir semua tokoh di Asia seperti Malaysia, China, dan Brunei Darussalam, membanggakan visi dan inisiatif negaranya dalam mengembangkan broadband.

Malaysia misalnya, mereka membanggakan proyek raksasa Malaysian Super Corridor (MSC) yang diusungnya sejak 1996 silam dan National Broadband Initiative (NBI) yang dicanangkan mulai 2004 lalu. Dan kini, Malaysia tengah menuju era baru dalam program High Speed Broadband (HSBB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Proyek ini bisa berjalan dan sukses karena seluruh stakeholder di negeri ini mau berkolaborasi dan melupakan sejenak kompetisi demi kepentingan bangsa," kata Y.B. Dato Joseph Salang, Deputi Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia, di Mandarin Oriental Hotel, Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (9/5/2011).

Menurutnya, dari 28 juta penduduk di Malaysia, hampir 55% sudah bisa menikmati akses broadband ke rumah-rumah melalui jaringan kabel fiber to the home (FTTH) maupun nirkabel lewat seluler 3G maupun 4G Wimax.

"Kami percaya broadband initiatiatives ini memberikan dampak kepada GDP (pendapatan per kapita) 1,3% dan tentunya national competitiveness (daya saing bangsa)," lanjut Dato Joseph Salang.

Indonesia sendiri sebenarnya sudah punya inisiatif serupa lewat proyek Palapa Ring. Namun sayangnya, proyek pembangunan infrastruktur broadband bersama di bagian timur Indonesia ini kurang mendapat dukungan penuh dari seluruh stakeholder. Dari tujuh operator yang semula bergabung, kini hanya tinggal Telkom yang berani memulai inisiatif pembangunan.

"Operator di Indonesia kurang kompak untuk urusan seperti ini," keluh Aizirman Djusan, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) saat ditemui di sela acara yang sama.

Sementara menurut Taufik Hasan, Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), kekurangan Indonesia dalam hal perencanaan pembangunan broadband cuma satu.

"Indonesia cuma kurang figur e-Leadership. Untuk urusan broadband initiatives ini kita perlu orang nomor satu di negeri ini yang memulainya," cetusnya kepada detikINET di acara itu.

"Mudah-mudahan sejak Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) mulai membanggakan banyaknya pengguna Twitter, kepentingan broadband di Indonesia mulai ikut diperhatikan. Sebab, broadband adalah tulang punggung infrastruktur di negeri ini," tandas Taufik.

(rou/ash)







Hide Ads