Menteri Kominfo Tifatul Sembiring pun merasa perlu memberikan penjelasanΒ terkait dengan hal ini. Melalui akun Twitter dan Facebook, Tifatul mengungkapkan poin-poin penting yang terbagi dalam 11 'kicauan' yang diupdatenya siang ini, Selasa (13/01/2011).
Disebutkan olehnya, berdasarkan data pakar IT, di Indonesia saat ini ada tiga juta pelanggan BlackBerry. Sebanyak dua juta di antaranya merupakan pelanggan BlackBerry resmi dan sisanya black market.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"CATAT : RIM tanpa bayar pajak sepeserpun kepada RI, tanpa bangun infrastruktur jaringan apapun di RI. Seluruh jaringan adalah milik enam operator di INA (Indonesia)," tegas Tifatul dalam tweetnya.Β
Disebutkan juga olehnya, semua operator sudah menjalankan dan mematuhi UU dan peraturan seperti membayar BHP frekuensi, pajak, perekrutan tenaga kerja, program Corporate Social Responsibility (CSR), membantu korban bencana alam dan penyensoran konten pornografi.
Maka kemudian, Tifatul mempertanyakan dimana letak kesalahannya jika pemerintah Indonesia meminta 'jatah'.
"Kelirukah kita jika minta RIM menjalankan UU dan aturan yg sama? Apakah RIM perlu diberi keistimewaan dan perkecualian? Saya sudah baca komentar-komentar, haruskah kita selalu merunduk-runduk kepada asing? Arogankah kalau mengingatkan asing agar hormati hukum dan UU di INA. Ini untuk kepentingan yang lebih luas. Diberi sepotong 'kue kecil' lantas mati-matian bela asing. Minta hak yang besar untuk bangsa yang terhormat ini. Mudah-mudahan tweeps budiman maklum adanya," tutupnya. (rns/ash)