Anak usaha PT Indosat Tbk yang bergerak di bidang teknologi komunikasi informasi untuk segmen korporasi ini, mencatatkan pertumbuhan revenue 16% di 2009 lalu, dari Rp 1,063 triliun menjadi Rp 1,235 triliun.
"Pertumbuhan revenue kami yang 16% jadi tidak terlalu signifikan karena nett income kami tumbuh 58%," kata Dirut Lintasarta Noor SDK Devi dalam jumpa pers 22 tahun kiprah perusahaan di kantor pusatnya, Gedung Lintasarta, TB Simatupang, Jakarta, Senin (5/4/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Devi sendiri mengakui sulitnya untuk mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan di pasar komunikasi data korporat. Sebab, Lintasarta yang menguasai 20% pangsa pasar dan menjadi pemain terbesar kedua menilai persaingan semakin ketat.
"Kami sempat kehilangan satu klien senilai seratus miliar rupiah karena kalah bersaing soal harga. Kami sempat goyang. Namun kami tetap berhasil mempertahankan pertumbuhan karena terus melakukan inovasi layanan dan mempertahankan kualitas," papar Devi.
Inovasi layanan yang dimaksud ialah tak hanya menawarkan jasa komunikasi data, namun juga diperluas untuk menyediakan akses internet. Lintasarta sendiri telah memiliki jumlah pelanggan korporasi sebanyak 1500 pelanggan dengan 16 ribu jaringan akses yang terhubung di 72 kota di Indonesia.
"Kami terus memperluas jaringan IP based, metro ethernet, serta jangkauan fiber optic kami untuk melayani pelanggan korporat kami," kata Yudi Rulanto, Direktur Pengembangan Bisnis Lintasarta.
Lintasarta sendiri memilik sambungan serat optik di 12 kota yang menjangkau 300 gedung. Untuk jasa akses nirkabel, anak usaha Indosat ini menggunakan teknologi broadband wireless access dengan Wimax 16.d di pita 3,3 GHz. Sejak September 2009, perusahaan ini telah melayani 19 kota dengan 38 base station.
Melihat kinerja perusahaan yang dipimpinnya, Devi sendiri optimistis Lintasarta mampu mempertahankan arus pertumbuhan pendapatan sedikitnya 16% di akhir 2010. "Meski tidak tumbuh pesat, kami masih yakin pendapatan masih akan tumbuh seperti tahun lalu," pungkasnya.
(rou/faw)