Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
SMS Interkoneksi Bisa Rugikan Pelanggan

SMS Interkoneksi Bisa Rugikan Pelanggan


- detikInet

Jakarta - Hanya Telkomsel yang menginginkan jasa pengiriman SMS lintas operator menggunakan skema penagihan biaya berbasis interkoneksi (cost based). Sedangkan operator lain kebanyakan berkata tidak.

Penolakan skema dengan biaya interkoneksi ini mayoritas disuarakan oleh operator dengan jumlah pelanggan tak lebih dari 10 juta, seperti Bakrie Telecom, Mobile-8 Telecom, dan Smart Telecom.

Menurut Direktur Layanan Korporat Bakrie Telecom, Rakhmat Junaidi, penerapan biaya interkoneksi berpotensi mengganggu kenyamanan pelanggan yang selama ini telah terbiasa dengan penawaran yang diberikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang mesti dicermati adalah bila cost based diterapkan dan membuat tarif ritel terpaksa naik, tentu ini merugikan pelanggan. Dampak seperti ini harus diperhitungkan regulator," jelasnya kepada detikINET, Senin (8/3/2010).

Sementara menurut Merza Fachys, Direktur Utama Mobile-8, peralihan dari skema sender keep all (SKA) menjadi skema interkoneksi biaya, akan semakin memberatkan pengeluaran operator kecil.

"Jelas kami memilih SKA. Kalau berubah ke cost based, kami pemain kecil nanti masih harus tambah lagi fasilitas di jaringan buat menghitung interkoneksi SMS," tegas bos perusahaan telekomunikasi yang kini sejalan dengan Smart Telecom.

"Selain itu, kami juga harus mengeluarkan biaya tambahan buat kliring yang dihitung per CDR (call data record). Ditambah lagi dalam settlement interkoneksi, kami selalu yang bayar lebih. Buntutnya cost kami yang kecil malah naik, sementara yang besar pendapatannya semakin naik," keluh Merza lebih lanjut.

Keluhan yang sama juga disuarakan Guntur Siboro, Chief Marketing Officer Indosat. "Untuk interkoneksi perlu dipersiapkan platform-nya. Harus dibicarakan time frame dan beban investasinya. Dianalisa dulu supaya nantinya tidak membebani pelanggan."

Seperti diketahui, masalah penerapan SMS interkoneksi ini dipicu oleh Telkomsel yang tidak puas dengan pola penagihan SKA. Sebagai operator dengan jumlah pelanggan terbanyak, Telkomsel merasa dibebani jaringannya.

Sebab dengan SKA, keuntungan diambil semuanya oleh operator pengirim. Sedangkan jika berbasis interkoneksi, operator bisa revenue sharing alias bagi hasil antara operator pengirim dan penerima.

"Saya berdoa, mudah-mudahan nasib kami-kami yang kecil ini, yang lebih diperhatikan dari pada hanya melerai pertikaian yang besar-besar," harap Merza.

Operator lainnya, meski tak secara tegas menolak pola interkoneksi cost based, namun mereka mengindikasikan lebih memilih untuk bertahan dengan pola penagihan berbasis SKA.

"Axis akan comply dengan ketentuan yang ditetapkan regulator," kata Head of Corporate Communication Natrindo Telepon Seluler, Anita Avianty.

"XL juga akan mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah. Saat ini yang sudah ditetapkan adalah SKA, jadi kita mengikuti sistem yang berlaku," sahut Febriati Nadira, Head of Corporate Communication XL Axiata. (rou/faw)





Hide Ads