Lintasarta mengambil metode pemasaran langsung dengan menawarkan layanan Lintasartanet-SisfoKampus. Sedangkan IM2 melakukan pendekatan halus dengan cara mendukung kompetisi School Climate Challenge yang diselenggarakan British Council.
Namun intinya sama saja. Kedua anak usaha Indosat itu membidik pasar jaringan dan sistim informasi di segmen pendidikan, khususnya perguruan tinggi dan sekolah menengah umum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Solusi yang ditawarkan lewat Lintasartanet-SisfoKampus, mendukung proses otomasi kampus dari mulai penerimaan mahasiswa baru, proses akademis, tugas akhir hingga kelulusan.
Seluruh proses otomasi kampus di atas akan terintegrasi ke proses keuangan, yang terhubung ke sistem akuntansi dan Evaluasi Program Studi Berbasis Evaluasi Diri (EPSBED).
"Solusi ini kami buat untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan sistem informasi di perguruan tinggi," kata Ma'ruf. Sebab, lanjut dia, perguruan tinggi tak perlu berinvestasi untuk mengembangkan aplikasi, pengadaan server dan set up sistem. "Karena semua sudah disiapkan oleh Lintasarta."
Sistem ini juga berbasis web base, sehingga mudah diakses dan tidak membutuhkan perangkat komputer yang canggih. "Kami telah membantu implementasi jaringan pendidikan nasional yang menghubungkan lebih dari 300 perguruan tinggi di seluruh Indonesia," pungkas Ma'ruf.
Sementara pendekatan yang dilakukan IM2, lewat dukungan School Climate Challenge di British Council, tak lain demi menyosialisasikan program CSR Let's Go Green di lingkungan sekolah.
IM2 jelas ingin dikenal sebagai perusahaan yang ramah lingkungan lewat inovasi layanan e-billing untuk rekening tagihan pelanggan. Untuk memperkuat citranya, IM2 juga pernah menanam 2.000 pohon di Taman Nasional dalam program lain yang berorientasi kepada pelestarian lingkungan.
(rou/faw)