Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Indosat Kembangkan Bibit SDM Telekomunikasi

Indosat Kembangkan Bibit SDM Telekomunikasi


- detikInet

Jakarta - Masa depan pengembangan teknologi telekomunikasi di Indonesia ada di tangan siswa-siswi yang saat ini masih duduk di bangku sekolah. Agar mau menerima
'tongkat estafet' itu, tentunya minat pelajar akan teknologi sudah harus ditumbuhkan sejak dini.

Adalah guru yang kemudian jadi kunci penentu keberhasilan sang murid dalam hal ini. Khususnya, guru IPA dan Matematika. Nah, jika saja siswa-siswi sekolah sudah tidak tertarik dengan dua pelajaran ini, bisa dipastikan 'tongkat estafet' pengembangan teknologi tidak akan berjalan mulus.

Selaku operator telekomunikasi yang membutuhkan bibit SDM unggul, Indosat tentu tak ingin kekhawatiran ini terjadi. Perusahaan ini sadar, kunci sukses
pengembangan SDM teknologi pada awalnya ada di tangan para guru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Itu sebabnya, mereka terus melakukan sejumlah upaya. Agar guru tak hanya jadi pintar, tapi bisa menularkan kesukaannya akan teknologi pada seluruh siswanya.

Upaya ini dilakukan Indosat dengan kembali menggelar workshop untuk meningkatkan kompetensi guru IPA dan Matematika. Memasuki tahun keempatnya, program
kompetensi kali ini digelar di Padang, Sumatera Barat.

"Program ini terus kami gelar untuk memberikan nilai tambah kepada para guru. Tujuannya sudah pasti, agar dapat menyampaikan pelajaran dengan jelas kepada
siswa. Sehingga menimbulkan kecintaan akan mata pelajaran IPA dan Matematika yang menjadi dasar bagi pengembangan teknologi telekomunikasi," jelas Guntur
Siboro, Chief Marketing Officer Indosat, kepada detikINET, Kamis (30/7/2009).

152 guru IPA dan Matematika yang berasal dari Payakumbuh, Bukittingi, Batusangkar, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Tanah
Datar di Sumatra Barat, yang menjadi peserta workshop kali ini, mengaku puas setelah ikut pelatihan yang digelar Indosat.

Sebab, modul percobaan yang digunakan dalam praktikum tersebut tidak hanya membuat percobaan jadi lebih mudah, namun juga lebih murah dan hemat. Dan yang
terpenting, lanjut Guntur, tidak harus dilakukan di dalam laboratorium, tapi juga bisa dilakukan di kelas.

"Sehingga tidak ada alasan bagi sekolah yang tidak punya laboratorium, atau memiliki namun terbatas, tidak bisa melakukan praktek IPA yang menarik agar
siswa SMA lebih senang melakukan percobaan. Apalagi Indosat juga memberikan bantuan peralatan laboratorium," lanjut dia.

Dalam kesempatan itu, Indosat memberikan bantuan 10 paket komputer bernilai ratusan juta rupiah serta dukungan dari Pemerintah Daerah Payakumbuh yaitu
berupa pembangunan fasilitas laboratorium di lingkungan SMAN 2 Payakumbuh.

Peningkatan Kualitas


Berdasarkan hasil survei Indosat ke sekolah-sekolah yang gurunya mengikuti pelatihan, program workshop semacam ini memberikan manfaat bagi para siswa,
antara lain: 99% siswa menganggap gurunya dapat memberikan pengajaran yang lebih baik, jelas, dan responsif.

Kemudian, terjadinya peningkatan kualitas dalam pemberian materi atau modul praktikum IPA sesuai dengan kurikulum, dan 99% siswa menyetujui bahwa
ketersediaan alat dan perangkat laboratorium dapat memudahkan pemahaman terhadap praktikum mata ajaran IPA dan Matematika.

Sedangkan efektifitas program bagi para guru berdasarkan survei yang dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan di setiap tahunnya, diperoleh peningkatan
pengetahuan para guru peserta hingga 73%. Dan hal ini, kata Guntur, memicu peningkatan 400% jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri.

Berdasarkan data ini, Indosat pun semakin terpacu untuk terus menerapkan program kompetensinya di 103 sekolah lainnya di seluruh Indonesia, yang terpilih untuk ikut program Indosat Science and Multimedia School (ISMS).

(/ash)







Hide Ads