"Sedangkan sisanya akan kami alokasikan untuk pengembangan teknologi informasi seperti billing system," ungkap Presdir XL, Hasnul Suhaimi, usai meresmikan pemancar BTS di Kelurahan Mentaos, Kabupaten Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (30/1/2009).
XL tahun ini menganggarkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) sebanyak US$ 700 juta. Sebanyak US$ 250 juta atau sekitar 35% dana capex akan diambil dari kas internal perusahaan, sedangkan sisanya dari pinjaman eksternal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pinjaman dari ECA akan cair pada triwulan pertama tahun ini," ujarnya. "Dengan demikian, sisa pendanaan capex yang masih harus dipenuhi hingga akhir tahun berkisar US$ 200 juta-US$ 250 juta," lanjut Hasnul tanpa merinci pola pencarian dana yang tersisa.
Sembari mencari pendanaan demi memenuhi capex, XL juga akan melakukan lindung nilai (hedging) dari total utang yang jumlahnya mencapai US$ 1,7 miliar. Sebanyak 50% utang dalam bentuk dolar AS akan dialihkan menjadi dalam bentuk mata uang rupiah.
Hasnul juga menambahkan, perseroan saat ini sedang melakukan tender penjualan 7000 unit menara BTS XL. Namun ia enggan menyebutkan nilai jual menara yang dimaksud.
Sampai saat ini, kata dia, transaksi menara belum rampung menyusul krisis keuangan yang mengakibatkan tiga calon pembeli menunda sementara rencana pembelian.
"Kalau tahun ini terjadi kesepakatan jual-beli maka dana hasil penjualan BTS itu akan digunakan sepenuhnya untuk menutup sisa capex," tandas Hasnul.
(rou/ash)