Penjualan menara yang dilakukan Bakrie Telecom (BTel) diyakini akan meningkatkan biaya operasional. Namun penyedia layanan Esia itu tetap bersikap positif.
BTel pada Selasa (20/1/2009) seyogyanya mengumumkan pemenang tender penjualan 543 menaranya. Namun, saat ditemui di sela peluncuran EsiaFu di Pacific Place, SCBD, Jakarta, Selasa (20/1/2009) Direktur Corporate Services BTEL, Rakhmat DjunaedyΒ mengakui bahwa pengumuman itu sedikit terlambat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rakhmat mengakui ada potensi kenaikan biaya operasional akibat penjualan menara. Menurutnya, biaya perawatan per bulan per menara itu mencapai Rp 2-4 juta. Sedangkan jika menyewa mencapai Rp 12-19 juta per bulan per menara tergantung lokasi.
Muhammad Danny Buldansyah, Wakil Direktur Utama bidang Jaringan, PT Bakrie Telekom mengatakan konsumsi listrik per menara, baik sewa atau punya sendiri, mencapai 7.000 - 10.000 watt. Jika dirupiahkan, biaya listrik itu mencapai sekitar Rp 2 juta per bulan.
Sudah Dihitung
Meski ada kemungkinan kenaikan itu, Rakhmat tetap bersikap positif. Penjualan menara, menurut Rakhmat telah diperhitungkan oleh BTel. Sehingga meskipun tak memiliki menara, perusahaan akan memiliki modal cash di depan.
Dana penjualan menara akan digunakan untuk pengembangan kinerja perseroan yang akan dimasukkan dalam anggaran belanja modal (capital expenditure/capex). "Keunggulannya, sekarang kami akan punya uang di depan. Lagipula menara itu kan ada depresiasi," ujarnya.
BTel telah melakukan negosiasi penjualan 543 menara telekomunikasi dengan 6 investor lokal. Mereka adalah PT Solusi Tunas Pratama, PT Tower Bersama, PT Protelindo, PT Retower, PT Padi Mekatel dan PT Powertel.
"Dari 6 investor tersebut, gugur satu menjadi 5. Dari lima itu sekarang tinggal 3. Tapi nama-namanya tidak bisa saya sebutkan," ujar Rakhmat.
Rakhmat mengatakan, target penjualan menara sekitar Rp 380 miliar. "Masih nego, kita sih maunya lebih tinggi. Tapi tergantung nanti," ujar Rakhmat.
Sebelumnya, Presiden Direktur BTel Anindya Bakrie mengatakan, penjualan 543 menara tersebut bisa mencapai Rp 450 miliar. Namun Rakhmat belum bisa memberikan angka tawaran terakhir dari para penawar yang tersisa. (wsh/wsh)