Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Spotlight 2008
Setelah Meroket, FWA Bakal Tenggelam?
Spotlight 2008

Setelah Meroket, FWA Bakal Tenggelam?


- detikInet

Jakarta - Tarif murah telah menjadi jargon utama jualan operator telekomunikasi di 2008 ini. Lantas bagaimana kiprah operator FWA yang telah dari awal mengusung tarif yang lebih murah dari seluler. Apakah bakal tenggelam?

Sejak pemerintah menurunkan tarif pungut pelanggan hingga 40% lewat penghitungan baru biaya interkoneksi, banyak yang menyangsikan layanan telepon tetap nirkabel area terbatas atau fixed wireless access (FWA) akan mampu bertahan.

Dari sisi cakupan jangkauan layanan, jelas Flexi, Esia, StarOne, maupun Hepi, kalah mentereng ketimbang Simpati, Bebas, Mentari, dan produk seluler lainnya. Meski demikian, keterbatasan coverage mampu dikalahkan oleh tarif murah yang ditawarkan layanan FWA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlebih, operator FWA tak kalah cerdik mengakali regulasi dengan menawarkan layanan call forwarding semacam Esia Gogo, Flexi Combo, maupun StarOne Jelajah, jika pengguna FWA hendak bepergian ke luar kota, jauh di luar kode area awal.

Namun, itu dulu saat FWA masih jaya-jayanya. Dengan penurunan tarif pungut pelanggan, operator FWA bisa mati angin kala bersaing dengan program marketing operator seluler.

Biaya interkoneksi yang dipotong hingga 40% membuat layanan seluler menurunkan tarif gila-gilaan. Lihat saja XL yang berani menawarkan tarif promosi hingga mendekati tarif dasar. Bahkan, Telkomsel yang selama ini malu-malu, akhirnya tak kuasa juga menawarkan tarif Rp 0,5 rupiah per detik untuk prabayarnya.

Memang sulit sekali memainkan tarif jika sejak awal margin FWA sudah sangat mepet. Alhasil, hanya program marketing bundling ponsel dan tarif satu rupiah per SMS yang bisa ditawarkan Bakrie Telecom. Telkom pun sampai kehabisan akal mengejar pelanggan sampai-sampai harus menggratiskan tarif panggilan hampir setahun demi tercapainya target.

Apalagi StarOne dan Hepi. Apa yang bisa ditawarkan selain mengemas program tarif yang lebih murah, mengingat positioning mereka jauh di bawah Flexi dan Esia yang notabene juga mulai kembang kempis.

Meski demikian, FWA tak mau buru-buru dibilang bakal tenggelam. Buktinya, saat ini Flexi tercatat punya 11 juta pelanggan dan Esia 7 juta pelanggan. Jika dibandingkan year on year, maka pertumbuhan kedua produk tersebut hampir 100%. Belum lagi Hepi yang mengaku memiliki 500 ribu pelanggan dan StarOne 650 ribu pelanggan.

Menghadapi 2009 nanti, Bakrie Telecom misalnya, tetap optimistis mampu meraih banyak pelanggan baru hingga genap jadi 10,5 juta.

Tapi tunggu dulu, percaya diri tinggi boleh-boleh saja. Namun, mereka harus ingat, isu utama yang tengah dihadapi operator FWA adalah keterbatasan kanal frekuensi dan keterbatasan blok penomoran.

Dengan ruang sempit di 800 MHz, sangatlah sulit bagi operator FWA untuk berkembang. Bukti sahihnya, mana ada operator FWA yang berani jualan data. Lihat saja Bakrie yang lebih memilih menyibukkan diri jualan voice ketimbang Wimode yang kini semakin lemot.

Sementara, terkait dengan penomoran, bukan rahasia lagi kalau penataan block numbering di Indonesia tergolong amburadul. Sebab, dulunya hanya ada satu operator yang bermain di jaringan tetap yakni Telkom. Sebagai operator incumbent, Telkom bisa memilih nomor yang disukainya. Hal ini membuat nomor diaktifkan secara acak.

Pengaktifan semacam ini berdampak kepada satu blok nomor dari angka yang dipilih secara acak itu teregistrasi di jaringan incumbent di seluruh Indonesia. Dan ketika nomor itu diambil kembali oleh pemerintah untuk diberikan ke operator telepon tetap lainnya, nomor tidak bisa dipakai.

Akibatnya, operator pemilik nomor harus meminta ke Telkom untuk menghapus nomor dari jaringannya. Proses ini biasanya membutuhkan waktu yang lama karena pemerintah sendiri terkesan lepas tangan.

Satu block numbering biasanya berisi 10 juta nomor. Operator FWA sekelas Bakrie Telecom atau Telkom mampu menjual 800 ribu hingga satu juta nomor dalam waktu satu bulan. Jika pada tahun depan pertumbuhan jasa FWA diperkirakan mencapai 7 juta pelanggan dari semua pemilik lisensi, maka dapat dipastikan satu operator FWA hanya akan aktif berjualan selama satu kuartal.

Selebihnya, mereka terpaksa bengong dulu menunggu nomor yang ditinggalkan pelanggan dibersihkan dari sistem untuk dijual kembali. Jika ini terjadi, mungkin prediksi FWA akan tenggelam tinggal menunggu waktu saja.




(rou/wsh)





Hide Ads