Peneliti keamanan siber kenamaan asal China, Yuki Chen, resmi bergabung dengan perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka Z.ai.
Peneliti yang dijuluki superstar hacker di kalangan komunitas keamanan siber dunia ini direkrut untuk memperkuat keamanan siber berbasis frontier AI di tengah maraknya ancaman peretasan otomatis.
Kabar kepindahan ini diumumkan langsung oleh Chen melalui akun media sosialnya. "Perjalanan baru, misi baru! Sangat bersemangat dan bersyukur atas kesempatan untuk membantu membangun ruang siber yang lebih aman dengan kekuatan frontier AI," tulis Chen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temukan 23 Celah Keamanan Windows Pakai AI
Dalam pernyataan resminya, Z.ai mengungkapkan bahwa Chen--yang dikenal dengan nama julukan "Guhe"--langsung membuktikan taji kecerdasan buatan dalam riset keamanan siber.
Dengan memanfaatkan model AI unggulan Z.ai, GLM-5.3, Chen berhasil mengidentifikasi 23 celah keamanan pada sistem operasi Microsoft Windows. Temuan tersebut telah diakui dan dikonfirmasi secara resmi oleh raksasa teknologi AS, Microsoft.
Langkah Chen beralih menggunakan GLM-5.3 dilakukan setelah melihat kemampuan model AI tersebut yang kian lihai menyisir kelemahan sistem digital.
Profil Yuki Chen: 2 'Pwnie Awards' dan Top Hacker Microsoft
Yuki Chen bukanlah sosok sembarangan di dunia keamanan siber global. Ia merupakan peretas etis (white-hat hacker) dengan rekam jejak mentereng selama lebih dari 15 tahun:
- Mantan Petinggi Qihoo 360: Pernah menjabat sebagai kepala lembaga riset celah keamanan di Qihoo 360, perusahaan keamanan siber raksasa asal China.
- Penghargaan dari Microsoft: Dinobatkan sebanyak 5 kali sebagai salah satu peretas terbaik dalam daftar tahunan "Most Valuable Security Researcher" oleh Microsoft (pada 2019 serta 2021 hingga 2024).
- Meraih 'Pwnie Award': Mengoleksi dua piala Pwnie Award--penghargaan paling prestisius di dunia peretasan global yang sering dianggap sebagai ajang "Piala Oscar" bagi para hacker.
Ancaman Siber AI dan Dialog Keamanan AS-China
Pengangkatan Chen terjadi di tengah perhatian dunia terhadap kemampuan defensif dan ofensif AI generatif. Laporan riset dari laboratorium AI asal AS, Anthropic, sempat menyebutkan bahwa model GLM-5.3 milik Z.ai memiliki kemampuan ofensif siber yang setara dengan model terbarunya, Claude Mythos, termasuk kemampuan mengembangkan kode eksploitasi siber secara mandiri (autonomous end-to-end cyber exploits).
Pemerintah AS bahkan menobatkan GLM-5.3 sebagai model open-weight paling mumpuni untuk ranah keamanan siber saat ini.
Meningkatnya risiko teknologi AI otonom ini mendorong industri kecerdasan buatan China untuk memperketat standar keamanan. Selain pengangkatan pakar keamanan di Z.ai, pemilik TikTok, ByteDance, juga baru saja membentuk divisi khusus AI Safety.
Di tingkat diplomatik, Amerika Serikat dan China pun telah sepakat membuka dialog bilateral khusus mengenai keamanan AI jelang pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump, demikian dikutip detikINET dari SCMP, Kamis (22/10/2026).

