Pengguna HP Android di Indonesia perlu mewaspadai malware baru bernama Hirudo. Malware ini menargetkan delapan aplikasi mobile banking dari tujuh bank di Indonesia, dengan kemampuan mencuri PIN hingga mengganti aplikasi perbankan resmi menggunakan versi berbahaya.
Temuan tersebut diungkap perusahaan keamanan siber ThreatFabric dalam laporan yang diterbitkan pada 14 Oktober 2026.
"Hirudo berupaya mengganti aplikasi perbankan itu sendiri dengan salinan yang dimodifikasi, yang secara diam-diam menonaktifkan pemeriksaan keamanan milik bank dari dalam aplikasi," jelas ThreatFabric.
Dikutip dari BleepingComputer, Kamis (15/10/2026), peneliti menemukan delapan aplikasi perbankan Indonesia yang telah disiapkan versi penggantinya. Namun, nama bank yang menjadi sasaran tidak diungkap secara terbuka.
Menyamar Jadi Aplikasi Belanja dan Curi PIN
Hirudo merupakan malware Android berjenis remote access trojan (RAT) yang memungkinkan penyerang mengendalikan perangkat korban dari jarak jauh.
Malware ini disebarkan melalui aplikasi yang menyamar sebagai layanan belanja dan hiburan, seperti Shopora, 1V1 X, ZoyaTV, dan KoiShort.
Beberapa aplikasi bahkan menampilkan katalog belanja atau konten hiburan sungguhan sehingga terlihat normal.
Namun, aplikasi tersebut menyimpan komponen berbahaya. Saat dibuka, pengguna dapat menerima pemberitahuan pembaruan palsu yang mengarahkan pemasangan malware tambahan.
Hirudo kemudian meminta izin sensitif, termasuk Accessibility atau aksesibilitas Android. Jika diberikan, izin ini dapat disalahgunakan untuk membaca layar, menekan tombol, dan menjalankan perintah tanpa sepengetahuan korban.
Bisa Ganti Aplikasi Mobile Banking Asli
ThreatFabric menemukan Hirudo memiliki daftar 42 aplikasi keuangan yang menjadi target. Delapan aplikasi perbankan Indonesia bahkan sudah memiliki APK pengganti khusus.
Ketika mendeteksi aplikasi bank yang menjadi sasaran, Hirudo menampilkan pemberitahuan update palsu dan mencoba mengarahkan korban menghapus aplikasi resmi.
Malware kemudian berusaha memasang aplikasi pengganti yang telah dimodifikasi, menggunakan nama paket dan nomor versi yang sama agar terlihat seperti aplikasi asli.
Meski demikian, proses ini tidak sepenuhnya otomatis. Android mengharuskan aplikasi dengan tanda tangan digital berbeda dipasang setelah aplikasi asli dihapus, sehingga pengguna masih berkesempatan menghentikannya.
Setelah terpasang, aplikasi berbahaya menggunakan teknik hooking berbasis YAHFA dan Dobby untuk memanipulasi pemeriksaan keamanan, termasuk tanda tangan digital, Accessibility, perekaman layar, dan Google Play Integrity.
Tujuannya agar aplikasi yang telah dimodifikasi terlihat seolah-olah berjalan dalam kondisi aman.