Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ransomware Berbasis AI Melonjak, BSSN Catat 5,5 Miliar Serangan di RI

Ransomware Berbasis AI Melonjak, BSSN Catat 5,5 Miliar Serangan di RI


Anggoro Suryo Jati - detikInet

Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra
Foto: detikINET/Anggoro Suryo Jati
Jakarta -

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) kini kian mempercepat industrialisasi kejahatan siber di kawasan Asia Pasifik.

Berdasarkan edisi ketujuh 2026 Cyber Threat Landscape Report dari Ensign InfoSecurity, AI dimanfaatkan para peretas untuk mempercepat proses pengintaian, pemindaian kerentanan, hingga pembuatan umpan phishing yang lebih meyakinkan.

Lonjakan Serangan di Kawasan ASEAN

Pemanfaatan AI mendorong pergeseran taktik serangan siber di kawasan regional:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

  • Lonjakan Ransomware: Aktivitas ransomware di ASEAN meningkat dua kali lipat sepanjang 2025, yang didominasi oleh 18 kelompok peretas utama. Kawasan Australasia dan Asia Timur bahkan mencatat lonjakan masing-masing lebih dari 600% dan 400%.
  • Pencurian Data Menggeser Enkripsi: Pelaku kejahatan siber kini lebih memprioritaskan pencurian data daripada sekadar mengunci/mengenkripsi sistem.
  • Target Hacktivisme: ASEAN mencatat tingkat hacktivisme tertinggi (19,1%), dengan target yang meluas dari sektor pemerintah ke infrastruktur penting seperti energi, transportasi, telekomunikasi, dan perbankan.

ADVERTISEMENT

Kondisi Darurat Siber di Indonesia

Di Indonesia, ancaman siber menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,5 miliar aktivitas serangan siber sepanjang 2025--melonjak lebih dari tujuh kali lipat dibandingkan rata-rata tahunan periode 2020--2024.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan total kerugian masyarakat akibat penipuan digital telah menembus angka Rp 7,5 triliun.

Head of Consulting PT Ensign InfoSecurity Indonesia, Adithya Nugraputra, mengingatkan bahwa siklus pembaruan kemampuan AI berlangsung sangat cepat, yakni sekitar dua bulan sekali.

"Organisasi tidak dapat lagi mengandalkan kontrol keamanan yang statis. Penting untuk memprioritaskan pemindaian dan penerapan patch pada aset yang terhubung ke internet, serta menguji pertahanan secara berkala terhadap model AI terbaru," tegas Adithya, di Jakarta, Rabu (16/9/2026).



(asj/asj)




Hide Ads