Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Serangan Siber di Indonesia Melonjak: 16 Serangan Tiap Detik

Serangan Siber di Indonesia Melonjak: 16 Serangan Tiap Detik


Anggoro Suryo - detikInet

Smartphone with triangle caution warning icon. System error, malware and cyber crime concept.
Foto: Getty Images/mohd izzuan
Jakarta -

Keamanan siber Indonesia tengah menghadapi tantangan yang sangat masif. Berdasarkan laporan terbaru, jumlah serangan digital yang menargetkan infrastruktur Tanah Air pada Semester 1 2026 mengalami lonjakan drastis hingga 93,33% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menurut "Laporan Ancaman Digital di Indonesia Semester 1 Tahun 2026" yang dipublikasikan oleh platform intelligence AwanPintar.id, tercatat ada 257.976.333 serangan siber selama enam bulan pertama tahun ini. Secara statistik, angka ini setara dengan 16 kali rentetan serangan yang terjadi di setiap detiknya.

Founder AwanPintar.id, Yudhi Kukuh, menjelaskan bahwa eskalasi ekstrem ini dipicu oleh meluasnya permukaan serangan (attack surface) akibat derasnya arus transformasi digital di berbagai sektor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Termasuk oleh masifnya pemanfaatan layanan cloud, AI, dan peningkatan transaksi online di masyarakat," ungkap Yudhi, dalam keterangan yang diterima detikINET.

ADVERTISEMENT

Incar kendali sistem administrator

Alih-alih sekadar mengintai, operasi peretas kini makin agresif. Laporan tersebut mencatat bahwa upaya untuk merebut kendali penuh atas sistem menjadi serangan yang paling mendominasi. Angkanya meroket tajam dari yang sebelumnya hanya 2,76% pada tahun lalu, kini menjadi 43,65%.

Kondisi ini patut menjadi lampu kuning bagi setiap organisasi. Keberhasilan peretas merebut hak akses administrator kerap menjadi pintu gerbang bagi kejahatan yang lebih mematikan, seperti invasi ransomware, pencurian data tingkat tinggi, hingga sabotase total pada infrastruktur jaringan.

Manipulasi protokol dan pencurian informasi

Ancaman terbesar kedua diduduki oleh kategori Generic Protocol Command Decode (27,22%). Teknik ini mengeksploitasi anomali pada protokol jaringan--seperti serangan DDoS--untuk melumpuhkan targetnya secara terarah.

Selain itu, tren percobaan pencurian data juga tercatat naik menjadi 13,97%. Dalam melancarkan aksinya, para penjahat siber tak segan menggunakan tools otomatis dan teknik brute force untuk membobol ribuan kombinasi kata sandi lemah hanya dalam hitungan detik.

China mendominasi, ancaman lokal mengintai

Karakteristik ancaman digital saat ini tidak lagi dilakukan secara acak, melainkan telah terstruktur dengan sangat baik. Berikut adalah beberapa temuan penting terkait pola serangan tersebut:

  • Dominasi serangan luar negeri: China menduduki peringkat pertama sebagai sumber serangan utama ke Indonesia dengan persentase 21,94%, disusul oleh Amerika Serikat di angka 10,83%.
  • Titik serangan lokal baru: Secara mengejutkan, serangan dari dalam negeri juga menunjukkan grafik peningkatan. Wilayah Banyuwangi (4,53%) dan Tangerang (3,46%) kini muncul sebagai sumber peretasan lokal yang signifikan.
  • Eksploitasi celah spesifik: Modus pencurian kredensial untuk membajak akses sebagian besar (99,28%) dilakukan secara diam-diam melalui instalasi DoublePulsar Backdoor.
  • Ancaman malware dan CVE: Setelah sempat mereda di awal tahun, lonjakan serangan malware dan eksploitasi celah keamanan (CVE) kembali meledak pada bulan Maret hingga Juni 2026. Hal ini membuktikan rentannya dampak dari sebuah sistem yang terlambat mendapatkan pembaruan (patch).

Menghadapi pergeseran taktik yang makin canggih ini, penerapan tata kelola keamanan yang ketat mutlak diperlukan, mulai dari manajemen hak akses yang disiplin, penggunaan autentikasi multifaktor (MFA), hingga pembaruan intelijen ancaman secara berkala.



(asj/asj)




Hide Ads