Taiwan mengungkap serangan cyber yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) terhadap sejumlah lembaga pemerintah pada Juli 2026. Serangan tersebut disebut berasal dari luar negeri dan menggunakan kombinasi operasi manual serta AI agent.
Ministry of Digital Affairs (MDA) atau Kementerian Urusan Digital Taiwan menyebut unit pemantauan keamanan cybernya mendeteksi serangan yang disebut sebagai 'abnormal attack' mulai 20 Juli. Institut Keamanan Cyber Nasional Taiwan kemudian mengeluarkan sejumlah peringatan ketika penyelidikan berlangsung.
Yang membuat serangan ini berbeda adalah penggunaan AI agent. Teknologi tersebut memungkinkan sejumlah tugas yang biasanya dilakukan hacker secara manual dikerjakan dengan bantuan sistem AI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut MDA, serangan memiliki karakteristik yang jelas berasal dari luar negeri dan menggunakan pendekatan hibrida, yakni menggabungkan operasi manual dengan serangan yang dibantu agen AI seperti OpenClaw.
Temuan Taiwan muncul sehari setelah perusahaan keamanan cyber asal Israel, Dream, melaporkan kampanye peretasan berbasis AI terhadap sebuah pemerintahan di Asia. Dream mengatakan mereka berhasil merekonstruksi operasi tersebut setelah menemukan ruang kerja operasional lengkap milik agen-agen AI yang digunakan penyerang.
Menurut laporan Dream yang dikutip dari The Guardian, sistem tersebut berhasil membobol setidaknya 85 akun pengguna pemerintah dan mengambil lebih dari 2.500 data personel. Serangan kemudian meluas dengan menyasar badan keselamatan nuklir Taiwan dan sedikitnya tujuh perusahaan energi.
Reuters melaporkan Dream menemukan bahwa sejumlah agen AI bekerja sama untuk mengambil kata sandi pejabat, mencuri data personel dari Kementerian Kehakiman Taiwan, serta memindai badan keselamatan nuklir untuk mencari celah keamanan.
Perkembangan ini menarik karena AI tidak hanya digunakan untuk membantu hacker menulis kode atau mencari informasi. Dalam kasus yang dilaporkan Dream, sejumlah agen AI disebut dapat bekerja secara bersama-sama dalam proses serangan.
Sistem semacam ini memungkinkan berbagai tugas dibagi dan dilakukan dengan lebih cepat. AI dapat membantu melakukan pengintaian sistem, mencari celah keamanan, kemudian membantu menentukan langkah berikutnya berdasarkan informasi yang ditemukan.
Teknologi AI terbaru memang semakin mampu melakukan tugas-tugas tersebut secara cepat. The Guardian mencatat ancaman serangan cyber berbantuan AI meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan mengalami lonjakan dalam beberapa bulan terakhir setelah sejumlah laboratorium AI merilis model yang mampu melakukan pengintaian, menemukan kerentanan, dan mengeksploitasinya dengan cepat.
Namun, bukan berarti hacker sudah sepenuhnya bisa menyerahkan pekerjaan kepada AI. Cris Thomas, peneliti sekaligus security advocate di perusahaan keamanan kode Semgrep, mengingatkan agar kemampuan AI dalam serangan siber tidak dilebih-lebihkan.
"Masih ada manusia di baliknya. Seseorang harus memilih siapa yang akan diserang, menetapkan tujuan, dan memberikan instruksi. Ini tidak sepenuhnya 100% otonom. Ada operator yang mampu di baliknya," ujarnya.
Menurut Thomas, kasus Taiwan menunjukkan betapa cepat hacker dapat memanfaatkan AI untuk mempercepat serangan, tetapi keputusan strategis masih berada di tangan manusia. Ini menjadi pembeda penting antara serangan berbantuan AI dan serangan yang benar-benar sepenuhnya otonom.
Taiwan tidak secara resmi menyebut negara atau kelompok tertentu sebagai dalang serangan tersebut. MDA hanya mengatakan hasil penyelidikan menunjukkan karakteristik "overseas source" atau sumber dari luar negeri. China juga tidak disebut dalam pernyataan resmi Taiwan.
Namun, kasus ini muncul di tengah meningkatnya serangan cyber terhadap Taiwan yang sebelumnya kerap dikaitkan dengan dugaan aktivitas hacker China. Biro Keamanan Nasional Taiwan menyebut serangan siber terhadap infrastruktur penting Taiwan, mulai dari rumah sakit hingga bank, meningkat 6% pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Rata-ratanya mencapai sekitar 2,63 juta serangan per hari. Beberapa serangan bahkan disebut bertepatan dengan latihan militer. Meski demikian, angka tersebut mencakup berbagai jenis serangan dan tidak berarti semuanya menggunakan AI. MDA mengatakan lembaga yang menjadi sasaran berhasil menangani insiden tersebut.
"Sumber, metode, dan cakupan dampak serangan yang relevan telah sepenuhnya diselidiki, dan unit-unit yang terdampak telah menyelesaikan penanganannya secara bertahap," lapor MDA.
Pemerintah Taiwan kemudian memperkuat pemantauan sistem dan membuat panduan perlindungan baru untuk menghadapi jenis ancaman cyber berbasis AI tersebut. Kasus ini menunjukkan perubahan penting dalam lanskap keamanan cyber.
Jika sebelumnya AI lebih banyak dipandang sebagai alat untuk membantu manusia melakukan pekerjaan hacker, perkembangan AI agent membuka kemungkinan baru, sebagian proses serangan dapat dijalankan lebih cepat dan lebih mandiri oleh mesin.
Tetapi untuk saat ini, setidaknya dalam kasus Taiwan, manusia masih memegang kendali atas tujuan utama serangan. Dan justru kombinasi manusia dengan AI inilah yang menjadi tantangan baru bagi sistem keamanan cyber.