×
Ad

Begini Akibatnya Kalau Kamu Nekat Scan Sembarang QR Code

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 05 Feb 2026 07:45 WIB
Ilustrasi QR code. Foto: Tim infografis Fuad Hasim
Jakarta -

Pengguna Android dan iPhone, ada satu aturan penting yang berlaku sama untuk keduanya: jangan asal scan QR code! Kalau abai, siap-siap HP dikuasai penjahat. Data pribadi terancam, begitu pula rekening yang tersimpan di smartphone kamu, hih amit-amit.

Dari sebuah QR code, kita bisa menginstal sebuah aplikasi, buka website, login ke layanan streaming, sampai bayar-bayar pakai dompet digital. Caranya simpel, tinggal arahkan kamera belakang saja.

Meski hemat waktu, QR code juga punya sisi gelap, di mana sudah jutaan orang percaya telah menjadi target versi palsu QR code yang memang didesain untuk mencuri data pribadi. Bukan hal baru memang, tapi ternyata ada peningkatan dari tren tersebut.



Cara paling terkenal sekarang ada teknik penipuan bernama 'brushing'. Jadi, pelaku kejahatan akan mengirim sebuah parsel ke rumah target dengan QR code palsu. Biasanya, paket itu hadir tanpa diketahui informasi pengirimnya -- sengaja dipancing biar penasaran.

Nah, dari sini, korban terperangkap. Mereka pun memindai QR code tersebut dengan harapan mengetahui siapa pengirimnya. Ternyata, mereka malah membagikan infomasi pribadi sehingga pelaku cybercriminal dapat menggunakannya untuk mencuri uang atau aksi penipuan lainnya.

Penelitian dari perusahaan keamanan siber NordVPN menunjukkan bahwa masalah ini semakin meningkat. Perusahaan memperkirakan bahwa lebih dari 26 juta orang mungkin tanpa sadar telah diarahkan ke situs web berbahaya melalui QR code palsu.

"QR code telah menjadi gerbang tersembunyi bagi penjahat siber. Tidak seperti email phishing tradisional, di mana orang telah belajar mengenali tanda-tanda peringatan, QR code fisik seringkali terasa dapat dipercaya," kata Marijus Briedis, kepala teknologi di NordVPN.

"Perlakukan setiap QR code yang tidak terduga dengan kehati-hatian yang sama seperti yang Anda berikan pada tautan dari pengirim yang tidak dikenal di kotak masuk Anda," sarannya, seperti detikINET kutip dari Mirror, Kamis (5/2/2026).

4 cara terhindar dari bahaya QR code palsu

  • Sebelum kamu memindai kode QR, pastikan kamu tahu dari mana asalnya. Apakah dari bisnis/personal yang kamu percayai atau seseorang yang tidak kamu kenal? Jika tidak yakin, jangan memindainya
  • Sebagian besar ponsel pintar memungkinkan pengguna melihat tautan ke situs web sebelum membukanya. Manfaatkan fitur ini. Jika tautannya terlihat aneh, jangan lanjutkan
  • Pastikan perangkat lunak keamanan ponsel selalu diperbarui dan gunakan VPN saat menjelajahi internet
  • Bantu teman dan keluarga kamu tetap aman dengan membagikan kiat-kiat ini, terutama kepada siapa pun yang kurang akrab dengan teknologi alias gaptek. Penipu sering mengincar orang-orang yang tidak mengetahui trik-trik ini.

Kode QR code (quick response code) pertama kali ditemukan pada tahun 1994 oleh Masahiro Hara dan timnya di Denso Wave di Jepang. Kode-kode tersebut dirancang untuk melacak suku cadang otomotif secara lebih efisien daripada barcode tradisional, yang tidak dapat menyimpan data sebanyak itu.

Denso Wave memilih untuk tidak menegakkan hak paten, sehingga memungkinkan adopsi secara luas. Awalnya, kode QR hanya digunakan dalam manufaktur, tetapi dengan cepat menyebar ke pemasaran, pembayaran, tiket, dan otentikasi. Popularitas globalnya melonjak pada tahun 2010-an dan meledak selama pandemi COVID-19 untuk menu tanpa kontak, check-in, dan pembayaran.



Simak Video "Sindikat Pemburu Data Pribadi di Bali Sasar Warga Miskin"

(ask/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork