Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
55% Perusahaan Indonesia Tambal Software Manual

55% Perusahaan Indonesia Tambal Software Manual


- detikInet

Jakarta - Kurang lebih 55% perusahaan besar di Indonesia masih melakukan tambal software secara manual (manual patching). Praktek ini dinilai berbahaya.Hal itu dikemukakan oleh Jacqueline Peterson-Jarvis, Senior Manager Asia Pacific untuk Security Strategy & Products. "Dari perusahaan-perusahaan besar pelanggan Microsoft yang mau mengungkapkan data-data mereka, 55 persen masih melakukan (manual patching," tuturnya kepada wartawan di kantor Microsoft, Gedung BEJ, Jakarta, Kamis (31/08/2006). Jacqueline mengatakan praktek tersebut bisa berbahaya karena membutuhkan waktu lama. Padahal, sebuah kelemahan pada piranti lunak hanya membutuhkan hitungan hari sebelum muncul kode-kode jahat yang mengeksploitasi celah tersebut. "Ini bagai balapan antara mereka yang membuat kode jahat dengan kami di Microsoft yang membuat patch-nya," ujar Jacqueline. Saat hendak menerapkan sebuah produk keamanan, ujar Jacqueline, perusahaan harus melakukan penilaian terhadap kondisi keamanan yang sudah ada. "Setelah itu mereka membuat keputusan, ingin bekerja pada tingkat risiko keamanan yang seperti apa," ia menambahkan Terdapat tiga faktor keamanan jaringan komputer dalam sebuah organisasi. Jacqueline merincinya sebagai product-people- process. Beberapa hal yang telah dilakukan Microsoft untuk memperkuat sisi produk, lanjut Jacqueline, adalah menerapkan Security Development Lifecycle dan program 'Patch Tuesday'. Program 'Patch Tuesday' merujuk pada jadwal penerbitan patch pada Selasa kedua setiap bulannya. Kadangkala produk yang digunakan sudah cukup aman, namun orang yang menggunakan justru tidak cukup mawas dengan keamanan. Akibatnya, tetap terjadi risiko keamanan yang besar. "Ungkapan yang berlaku umum adalah, 'kekuatan sebuah sistem keamanan setara dengan titik yang paling lemah'," ujarnya. (wsh) (wicak/)




Hide Ads