Panas! Bos WhatsApp Sebut Keamanan Telegram Mengkhawatirkan

Panas! Bos WhatsApp Sebut Keamanan Telegram Mengkhawatirkan

ADVERTISEMENT

Panas! Bos WhatsApp Sebut Keamanan Telegram Mengkhawatirkan

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rabu, 12 Okt 2022 05:45 WIB
Ilustrasi WhatsApp
Panas! Bos WhatsApp Tak Sudi Pakai Telegram. Foto: Getty Images
Jakarta -

Baru-baru ini, pendiri Telegram Pavel Durov mengklaim pengguna sebaiknya menghindari WhatsApp untuk mencegah ponselnya jadi korban peretasan. Bos WhatsApp tak tinggal diam dan melancarkan serangan balik.

Seperti diberitakan, Durov mengutip masalah keamanan yang WhatsApp yang memungkinkan hacker mengambil alih ponsel korban hanya dengan mengirim video. "Hacker bisa memiliki akses penuh (!) terhadap semua yang ada di ponsel pengguna WhatsApp," tulis Durov

Durov mengatakan pengguna yang memperbarui WhatsApp tak berarti aman, karena WhatsApp memiliki masalah keamanan sama sejak lama. Menurutnya ini bukan kebetulan. Durov mengklaimnya adalah backdoor untuk memudahkan pemerintah, penegak hukum dan hacker untuk melewati enkripsi dan fitur keamanan lain.

Melalui Twitter, seperti dilihat Rabu (12/10/2022) Head of WhatsApp Will Catchart, melayangkan serangan balasan. Ia menilai justru keamanan Telegram yang mencemaskan.

"Aku takkan memakai Telegram untuk apapun yang privat. Tak seperti WhatsApp, Telegram tak punya penyandian end to end default dan tidak bisa juga dipakai di group. Itu artinya Telegram punya kopi pesan kalian dan itu mengkhawatirkanku," tulisnya.

Ia juga menilai Durov punya misi mempopulerkan Telegram dengan menjatuhkan WhatsApp. "Aku juga tak percaya sedikit pun Pavel membuat klaim itu tanpa niat untuk menumbuhkan aplikasinya. Sungguh sedih melihat Telegram mencoba dan menggunakan disinformasi sebagai taktik untuk menambah pertumbuhan mereka," kecam Catchart.

Memang terutama soal enkripsi, WhatsApp dianggap justru lebih mumpuni. "WhatsApp menerapkan E2E pada seluruh komunikasi, baik komunikasi perorangan atau komunikasi group. Telegram ternyata tidak menerapkan enkripsi E2E pada seluruh komunikasi dan pengguna Telegram harus secara khusus menjalankan Secret Chat agar terproteksi E2E," tulis pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya dalam kesempatan terpisah.

Ia menyebut Telegram relatif lebih lemah dari sisi E2E karena sistem yang diadopsi berbeda dengan WhatsApp, ia mengadopsi sistem cloud dimana seluruh data komunikasi disimpan di server Telegram, sedangkan WhatsApp menganut sistem client to client dimana seluruh data komunikasi akan tersimpan di setiap client dan bukan di server WhatsApp.

"Dari sudut pandang sekuriti, meskipun Telegram mengklaim sampai hari ini tidak pernah membagikan sedikitpun data komunikasi pelanggannya kepada siapapun, namun fakta bahwa data komunikasi tersimpan di server Telegram itu sendiri sudah menambahkan faktor risiko kebocoran data di masa depan dibandingkan WhatsApp yang tidak memiliki data dan semuanya disimpan di masing-masing klien," papar Alfons.



Simak Video "WhatsApp Akan Rilis 21 Emoji Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT