Penipuan Magis Digital Masih Mengintai di Masa Pandemi

Kolom Telematika

Penipuan Magis Digital Masih Mengintai di Masa Pandemi

Tony Seno Hartono - detikInet
Kamis, 15 Okt 2020 10:48 WIB
Human hand on keyboard,isolated, selective focus, shallow depth of field, concept of work & technology.
Penipuan Magis Digital Masih Mengintai di Masa Pandemi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Tidak saja software update, kompetensi keamanan digital manusia juga harus di-upgrade.

Kehidupan Digital Di Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 dan penerapan kebijakan physical distancing telah meningkatkan ketergantungan masyarakat terhadap platform digital. Kini, masyarakat lebih mengandalkan platform digital, daripada metode offline, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terdapat 7 dari 10 orang mengklaim bahwa COVID-19 telah berperan sebagai game changer bagi gaya hidup sehari-hari.

Survei terbaru Jakpat menemukan orang menjadi lebih sadar akan kebersihan dan kesehatan pribadi, lebih sering mengembangkan hobi atau keterampilan baru, serta lebih sering melakukan rutinitas mereka di berbagai platform digital. Peningkatan kegiatan jual-beli di aplikasi e-commerce secara drastis juga merupakan salah satu dampak pandemi. Disinyalir oleh McKinsey, terdapat 60% konsumen mencoba metode baru pembelian barang di platform digital.

Pun tidak dapat dipungkiri, pandemi COVID-19 telah menciptakan situasi ketidakpastian yang meresahkan di tengah masyarakat. Banyak orang merasa risau atas masalah finansial, kepastian pekerjaan, dan bagaimana masa depan setelah pandemi berakhir. Hal ini berujung gangguan psikologis seperti rasa kecemasan, stress, dan gangguan mood antara lain depresi sesuai laporan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia.

Kondisi psikologis masyarakat yang tidak kondusif membuat mereka semakin rentan terhadap serangan kejahatan digital berbasis manipulasi psikologis (magis) atau social engineering. Tidak terkecuali para pedagang di level UMKM yang jumlahnya bertambah banyak di masa pandemi. Merujuk data Kaspersky, di kuartal pertama 2020 di Indonesia, terdapat 192.591 serangan phising terhadap pedagang UMKM, meningkat dari angka 158.492 di periode yang sama di 2019. Wujud serangan phising tersebut berupa kiriman email, terkait COVID-19, dikemas dengan bahasa yang mengeksploitasi rasa keingintahuan dan kecemasan masyarakat.

Edukasi Publik Melalui Kolaborasi Antar Pihak

Kombinasi situasi tersebut yang mendorong Center for Digital Society Universitas Gadjah Mada (CfDS UGM) dan Gojek senantiasa mengedukasi publik secara rutin mengenai signifikansi Kompetensi Keamanan Teknologi Digital (KKTD) di masa pandemi. Terutama untuk merespon peningkatan kejahatan digital berbasis manipulasi psikologis yang memanfaatkan kelengahan psikologis dan kelemahan KKTD masyarakat Indonesia. Kolaborasi ini dikemas dalam payung program #AmanBersamaGojek.

Sebagai bagian upaya mendorong peningkatan KKTD masyarakat, "Kajian Peningkatan KKTD Analisis Fenomena Penipuan dengan Teknik Rekayasa Sosial"
dipublikasikan bersama oleh CfDS UGM dan Gojek pada Februari 2020 (sebelum pandemi COVID-19 merebak di Indonesia). Kajian tersebut menekankan pentingnya untuk membangun kesadaran kolektif guna meningkatkan kompetensi digital masyarakat Indonesia menuju standar intermediate dan advance (saat ini standar mayoritas masyarakat Indonesia berada pada standar basic ).

Penulis mengamati selama enam bulan terakhir terdapat intensitas serangan manipulasi psikologis di platform digital, semakin tingginya frekuensi penggunaan platform digital oleh masyarakat, dan situasi psikologis masyarakat yang berkembang cenderung ke arah tidak kondusif. Oleh sebab itu, penulis beranggapan paparan yang disampaikan CfDS dan Gojek di dalam Kajian tersebut menjadi semakin relevan di periode ini dan merupakan sebuah solusi yang dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk memastikan agar aktivitas digital tetap aman dan nyaman di tengah-tengah periode physical distancing.

Studi terbaru Bain & Company terkait pola konsumsi masyarakat di enam negara Asia Tenggara, menemukan adanya peningkatan konsumsi melalui platform digital sebesar 30% di masa pandemi. Oleh karenanya, bagi setiap konsumen yang kini lebih sering beraktivitas di platform digital menjadi semakin relevan bagi masing-masing individu tersebut untuk lebih peduli pada tingkat keamanan digital mereka, terlebih saat mereka bertransaksi digital. Peningkatan kesadaran dan perubahan perilaku di tingkat individu secara perlahan akan mendorong perubahan kolektif di tingkat masyarakat.

Terkait upaya peningkatan KKTD masyarakat Indonesia, CfDS UGM sendiri telah merekomendasikan sejumlah upaya yang dapat diterapkan dari diri sendiri. Peningkatan resiliensi tentunya sangat penting guna meningkatkan KKTD pengguna secara menyeluruh. Bagi pengguna yang masih berada di tingkat dasar, perlu untuk melakukan kompetensi yang terdapat di tingkat menengah, seperti membuat pengingat di telepon genggam secara berkala untuk mengganti kata sandi tiap akun digital yang dimiliki. Selain itu, pengguna di tingkat dasar juga harus mematikan akses telepon genggam ke WiFi publik bila hendak menggunakan aplikasi perbankan digital, meneliti reputasi suatu situs e-commerce terlebih dahulu sebelum digunakan untuk berbelanja dan bertransaksi, serta membiasakan diri untuk menggunakan akses keamanan lebih dari satu (seperti sidik jari dan kata sandi).

Sementara itu, untuk pengguna dengan tingkat KKTD menengah, mereka harus mulai membiasakan diri untuk secara proaktif meningkatkan pengetahuan mereka mengenai keamanan digital dengan cara secara rutin mengikuti berita-berita yang membahas mengenai kasus-kasus keamanan digital, mempelajari metode-metode baru yang digunakan oleh pelaku penipuan digital, serta mencari tahu lebih lanjut mengenai fitur/perintah teknologi yang tidak diketahui secara umum, yang mana sering dimanfaatkan oleh para pelaku penipuan manipulasi psikologis untuk melancarkan aksi mereka.

Selain komponen edukasi, program #AmanBersamaGojek, juga mencakup inovasi teknologi. Elemen ini ditujukan melindungi keamanan digital mitra Gojek; mitra merchants dan mitra driver. Salah satu bentuknya adalah fitur Inovasi Daftar Mandiri bagi mitra merchants GoFood dan ketersediaan fitur verifikasi wajah bagi segenap mitra driver Gojek. Hasilnya dari internal survei Gojek pun membanggakan; 93% mitra UMKM GoFood merasa aman menggunakan platform Gojek khusus merchant yakni GoBiz untuk bertransaksi digital dan 93% mitra driver GoCar & 92% mitra driver GoRide menyatakan puas atas keamanan akun mereka di platform Gojek.

Selanjutnya: kehidupan digital di masa depan...



Simak Video "Saksi Mata: Kejahatan Cyber Merajalela"
[Gambas:Video 20detik]