Selama Pandemi, Cyber Crime Money Mule Meningkat di Indonesia

Selama Pandemi, Cyber Crime Money Mule Meningkat di Indonesia

Inkana Putri - detikInet
Rabu, 30 Sep 2020 16:05 WIB
mobile banking
Foto: iStockphoto/MrRuj
Jakarta -

Salah satu perusahaan teknologi global dalam Manajemen Fraud dan Compliance, Verifikasi Identitas, dan Intelijen Data berbasis lokasi, GBG menyatakan tingkat cyber crime atau kejahatan penipuan di Indonesia mengalami peningkatan selama pandemi.

Dalam penelitian berjudul 'Future-proofing Fraud Prevention in Digital Channels: an Indonesian FI Study', GBG berkolaborasi bersama The Asian Banker mengadakan survei di lebih dari 300 institusi finansial di 6 negara wilayah Asia Pasifik. Managing Director APAC GBG June Lee mengatakan tipe kejahatan dengan model money mule diprediksi akan meningkat drastis di tahun 2020-2021 yang berdampak pada konsumen sektor perbankan dan finansial.

"Di tahun 2019, lebih dari 50 persen responden melihat adanya peningkatan fraud, yang paling menonjol adalah synthetic ID lebih dari 60 persen. Sementara di tahun 2020 ini, ada peningkatan penipuan pihak pertama, tapi yang paling menonjol adalah money mule," ujarnya saat video conference, Rabu (30/9/2020).

June menjelaskan para korban penipuan biasanya tidak sadar terkait penipuan ini sehingga bisa dengan mudah dimanfaatkan oleh penipu. Adapun money mule merupakan salah satu metode pencurian yang mana penipu akan mentransfer uang secara ilegal. Metode ini terjadi saat penipu memperoleh uang dari korban dengan meminta korban untuk membuka rekening bank dan mengelola transaksi.

Dalam penelitian tersebut, ditemukan juga peningkatan penggunaan internet di Indonesia selama pandemi dan PSBB berdampak terhadap tingkat cyber crime. Salah satunya layanan pinjaman online yang kini menjadi prioritas teratas bagi 43% institusi finansial di Indonesia di tahun 2020-2021.

"Sebelum pandemi terjadi, konsumen di Indonesia sudah mengonsumsi berbagai macam produk digital, terutama yang berkenaan dengan fasilitas kredit. Sekarang ini situasinya lebih penting lagi karena perusahaan-perusahaan sudah mulai mengalami masalah cashflow. Banyak orang yang membutuhkan berbagai macam pinjaman atau kredit dengan durasi pendek," katanya.

Terkait situasi ini, GBG memprediksi jenis penipuan money mule meroket hingga 68% pada 2020-2021. Selain itu, cyber crime juga dinilai sebagai satu hal yang paling merugikan institusi keuangan di Indonesia saat ini.

"Lebih dari 32 persen responden institusi keuangan di Indonesia melihat bahwa yang paling merugikan adalah serangan siber. Saat ini, kejahatan dari cyber crime diperkirakan akan menimbulkan kerugian sebesar USD 171 miliar. Sehingga terlihat tipe serangan ini semakin kompleks, terorganisir, dan terkoordinasi," kata June.

GBG juga menemukan di samping money mule, penipuan berkedok pemalsuan identitas (55%) dan pencurian identitas (53%) masuk bersama-sama dengan money mule dalam jenis fraud dengan tingkat pertumbuhan tertinggi di Indonesia tahun ini.

Melihat hal ini, June menyarankan agar para institusi finansial di Indonesia untuk lebih menjaga keamanan digital nasabahnya, yakni dengan melakukan verifikasi dan identifikasi data secara digital.

"Jadi, untuk bisa memerangi kejahatan finansial di luar sana, perusahaan ini memerlukan framework yang efektif yang bisa langsung mengatasi ancaman digital pada saat itu juga. Oleh karena itu, yang penting untuk dilakukan adalah sharing data antar departemen yang lengkap dan konsisten," katanya.

Menurutnya, kebutuhan untuk segera melakukan transisi dan mendukung adopsi layanan keuangan digital merupakan tantangan terbesar bagi institusi finansial di Indonesia. Apalagi melihat orang Indonesia yang pada umumnya terbiasa bertatap muka secara langsung.

"Hal ini bukan hanya tentang membuat konsumen beralih menuju adopsi digital, tetapi juga upaya organisasi agar memiliki sarana yang mampu secara inovatif memadukan penilaian risiko kredit seluler dengan teknologi penipuan dan menjembatani kurangnya data. Tujuan kami adalah menciptakan keseimbangan untuk meniadakan maraknya pola penipuan digital dan menciptakan lingkungan perbankan digital yang aman bagi masyarakat Indonesia," pungkasnya.

Chart kejahatan siberChart kejahatan siber Foto: Istimewa

Sebagai informasi, guna mencegah maraknya cyber crime di Indonesia, GBG memiliki Digital Risk Management dan Intelligence Platform untuk mencakup seluruh proses digital onboarding dan memonitor perjalanan transaksi pengguna.

Platform ini dapat meningkatkan deteksi fraud untuk membantu institusi finansial dan pemerintah dalam memerangi fraud dan kejahatan siber finansial. Teknologi digital end to end dan compliance memudahkan perbankan dan institusi finansial lainnya untuk memaksimalkan keakuratan deteksi penipuan hingga 30%.



Simak Video "Tips WFH Aman dari Kejahatan Siber saat PSBB Total"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)