Indonesia Perlu Waspadai Pencurian Identitas
- detikInet
Jakarta -
Identitas diri seseorang ternyata bisa jadi komoditas untuk diperjual-belikan. Seperti halnya di luar negeri, di Indonesia hal ini mulai terjadi dan tidak ada salahnya kalau semua orang mulai mewaspadainya.Tak hanya mengincar benda-benda berharga seperti uang dan perhiasan, di era informasi ini data diri seseorang pun ternyata juga jadi incaran para pencuri. Data diri yang semula dianggap remeh dengan memberikannya begitu saja kepada orang lain, ternyata bisa disalahgunakan.Hukum supply and demand berlaku. Nama, alamat, nomor telepon, umur, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, hobi dan data lain seputar identitas diri seseorang kini bisa dijual, karena memang ada yang mau membelinya. "Di Indonesia hal ini akan jadi masalah, dan akan menjadi ancaman secara global kalau sistim informasinya dibuat secara terpadu," kata Jim Geovedi, konsultan keamanan informasi dari perusahaan keamanan, PT. Bellua Asia Pacific. Dalam perbincangan dengan detikinet, Selasa (9/8/2005) Jim mengatakan, kasus pencurian informasi sudah mulai terjadi di perusahaan swasta di Indonesia. Jim menolak menyebutkan nama-nama perusahaan tersebut, tapi berdasarkan pengamatannya, ada sekitar lima sampai sepuluh kasus pencurian identitas telah terjadi."Sudah ada perusahaan di Indonesia yang data karyawannya dibobol. Data tersebut lalu dijual ke agen asuransi," Jim menjelaskan. "Ada yang menjualnya dengan perhitungan seribu rupiah atau sepuluh ribu rupiah per nama," ungkapnya.Ditelaah lebih lanjut, sangatlah beralasan jika sebuah agen asuransi menilai penting data diri seseorang. Data tersebut bisa digunakan untuk mengajukan penawaran jasa-jasa asuransi, karena memungkinkan mereka mengajukan penawaran dengan lebih spesifik, disesuaikan dengan kondisi orang tersebut.Pencurian identitas, menurut Jim, sangat mungkin dilakukan di Indonesia karena orang Indonesia belum mawas dengan informasi yang mereka punya. Pencurian identitas bisa dilangsungkan melalui teknik social engineering, hanya dengan membujuk atau mengelabui seseorang agar mau membeberkan identitas pribadinya. Teknik lain yang juga biasa dipakai adalah menyusup masuk ke sebuah sistim informasi di perusahaan, lalu mencuri data yang tersimpan di dalamnya.Jim mengatakan, sudah saatnya perusahaan-perusahaan mulai memperhatikan langkah-langkah menjaga kerahasiaan data. "Ini mencakup tidak hanya masalah teknis, tapi juga masalah manajemen," paparnya.Penipuan di Balik UndianAksi tipu-tipu lewat undian juga merupakan contoh signifikan dari bentuk pencurian identitas. Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, beredar tipuan yang mengatasnamakan PT Nokia Indonesia. Setelah diusut, tipuan yang menjanjikan motor dan mobil itu, ternyata memakai data konsumen yang didapat dari kartu garansi.Tak sedikit orang yang tertipu, dan hal itu memaksa Nokia untuk mengeluarkan ongkos ekstra untuk mengedukasi konsumen.Kasus Nokia merupakan salah satu contoh penyalahgunaan database identitas diri, dalam hal ini data kartu garansi. Jika tidak dikelola dengan baik, data bisa jatuh ke pihak yang tak bertanggung jawab dan disalahgunakan. Repot kan?
(ketepi/)