Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Aksi e-<i>Ganyang</i> Situs RI - Malaysia
'Indonesia' Klaim Kepemilikan Siti Nurhaliza
Aksi e-<i>Ganyang</i> Situs RI - Malaysia

'Indonesia' Klaim Kepemilikan Siti Nurhaliza


- detikInet

Jakarta - Perang kata-kata antara pihak Indonesia dengan pihak yang mengklaim dari Malaysia semakin menghangat di beberapa chatroom komunitas "dedemit maya" yang terpantau oleh detikcom, Jumat (11/3/2005). Saling sindir dan saling pamer daftar situs yang berhasil di-deface oleh masing-masing pihak terus menerus dilontarkan.Beberapa pihak yang mengklaim dari pihak Malaysia, menurut penelusuran detikcom memang menggunakan nomor-nomor Internet Protocol (IP) Malaysia. Beberapa diantaranya adalah IP milik Internet Service Provider (ISP) TMNET (tm.net.my) dan IP milik infrastruktur perusahaan minyak nasional Malaysia, Petronas (petronas.com.my).Klaim Siti NurhalizaAdu mulut, atau tepatnya adu ngetik, antara kedua belah pihak tersebut topiknya ternyata tak sekedar soal sengketa Blok Ambalat dan seputaran aksi e-ganyang situs RI - Malaysia saja. Bahkan topik-topik yang lain pun ikut diangkat, sebutlah semisal soal tenaga kerja Indonesia (TKI), perbedaan proses perolehan kemerdekaan antara kedua negara serumpun tersebut, hingga soal Siti Nurhaliza vs Inul Daratista.Khusus yang menyangkut soal Siti vs Inul tersebut, temanya tak kurang dari keunggulan masing-masing biduanita tersebut. Keanggunana Siti yang terkenal dengan cengkok melayunya, kerap diadu dengan kehebohan Inul yang mempelopori "gerakan masal" Goyang Inul.Tetapi untuk perdebatan tentang dua biduanita kondang ini, "pihak Indonesia" terkadang suka lupa diri. Selain mempromosikan Inul Daratista, Siti Nurhaliza pun diklaim sebagai milik Indonesia! Jadi kalau menurut versi komunitas underground, yang harus dipertahankan Indonesia adalah satu paket, yaitu Blok Ambalat dan Siti Nurhaliza!Meskipun demikian, secara umum aksi provokasi di beberapa chatroom underground dikuatirkan akan semakin menimbulkan korban-korban situs Indonesia dan Malaysia, yang notabene tidak ikut campur dalam permasalahan yang ada. Memang sudah banyak pihak yang menyerukan untuk melakukan "gencatan senjata" antara mereka yang kerap menyerang situs Indonesia maupun situs Malaysia. Tetapi seruan tersebut hingga kini seperti menabur garam ke lautan. (ien/)




Hide Ads