Sabtu, 21 Okt 2017 13:37 WIB

Kolom Telematika

Ancaman Penyusup WiFi dan Cara Membasminya

Penulis: Alfons Tanujaya - detikInet
Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom
Jakarta - Terkadang kita lupa, kuartal terakhir setiap tahun biasanya menjadi waktu favorit bagi peretas untuk melakukan serangan malware. Tahun 2017 menjadi tahun yang cukup unik karena serangan ransomware yang sudah mencapai puncaknya di paruh pertama 2017 dengan aksi Wannacry kelihatannya tidak mudah mendapatkan momentum untuk melakukan serangan dengan skala sebesar Wannacry.

Selain Wannacry, terjadi insiden unik dimana salah satu merek antivirus Rusia dicoret dari vendor oleh pemerintah Amerika Serikat karena ditengarai digunakan sebagai alat untuk
aktivitas memata-mata.

Justru dua ancaman sekuriti yang cukup serius di kuartal terakhir tahun 2017 tidak muncul dari ancaman malware, melainkan mengancam pengamanan data jaringan nirkabel yang digunakan di seluruh dunia. Dan ancaman yang terjadi semuanya berhubungan dengan proses pengamanan enkripsi lalu lintas data yang digunakan dalam jaringan nirkabel atau WiFi.

WPA 2 sendiri adalah teknologi yang sudah cukup tua, sekitar 13 tahun dan menjadi standar pengamanan Wifi, sedangkan kunci algoritma yang dieksploitasi ROCA sendiri sudah digunakan secara meluas selama 5 tahun terakhir.

Ancaman Penyusup WiFi dan Cara MembasminyaFoto: Reuters/Kacper Pempel


Mengapa data harus dienkripsi?

Seperti kita ketahui, jaringan internet adalah jaringan umum, ibaratnya jalan raya yang dipenuhi oleh berbagai macam informasi yang bisa diakses oleh siapapun yang berada di jalan raya tersebut.

Jika data penting dikirimkan bulat-bulat, maka siapapun yang berada di internet secara teknis bisa menyadap data tersebut. Karena itulah data yang dikirimkan melalui internet diacak sedemikian rupa dengan metode yang teruji aman (enkripsi) sehingga sekalipun berhasil disadap data tersebut tidak akan bisa dibaca karena terlindung oleh enkripsi.

KRACK

Ancaman pertama yang patut mendapatkan perhatian adalah KRACK (Key Reinstallation Attack) dimana data yang disalurkan melalui semua perangkat nirkabel WiFi yang menggunakan
pengamanan sekuriti WPA2 rentan bocor ketika dieksploitasi dengan teknik tertentu. Adapun konfigurasi jaringan yang rentan adalah WPA1 dan WPA2, baik PSK (Personal) maupun Enterprise.

Untuk semua cipher (WPA-TKIP, AES-CCMP dan GCMP). Semua Wifi yang menggunakan
perlindungan WPA2 bisa dieksploitasi dan digunakan untuk mencuri informasi sensitif seperti kredensial akun, kartu kredit, email dan file penting.

Ancaman ini sangat serius karena semua sistem operasi dan perangkat WiFi dunia bisa dieksploitasi. Tidak seperti ancaman malware yang biasanya mengincar korban terbesar dari sistem operasi Windows, kali ini dua sistem operasi yang memiliki resiko tertinggi atas kerentanan ini adalah Android 6.0 dan Linux.

ROCA

Ancaman kedua juga mengancam jaringan nirkabel dikenal dengan nama ROCA (Return of
Coppersmith Attack) yang terjadi karena adanya kerentanan dalam implementasi pengamanan kunci enkripsi RSA pada Infineon TPM (Trusted Platform Module).

Infineon TPM adalah pengontrol mikro khusus yang dirancang untuk mengamankan perangkat keras dengan cara mengintegrasikan kunci kriptografi pada perangkat dan digunakan untuk mengamankan proses kriptografi.

Sebagai informasi, TPM Infineon digunakan oleh miliaran perangkat di dunia. Microsoft, Google, HP, Lenovo dan Fujitsu merupakan beberapa vendor besar yang menggunakan TPM Infineon dan segera melakukan aksi membuat tambalan (patch) untuk menutup celah keamanan ini.

Kalau KRACK mampu menyadap data para pengguna WiFi yang diamankan dengan enkripsi WPA2
tanpa mengetahui kunci enkripsi, maka sebaliknya ROCA memiliki kemampuan untuk mengekstraksi kunci privat dengan hanya berbekal kunci publik.

Seperti kita ketahui, dalam pengamanan enkripsi, sistem pengamanan yang menjadi standar dunia menggunakan standar dua kunci, kunci privat dan kunci publik. Kunci privat dan kunci publik ini merupakan sepasang kunci unik dan data yang dienkripsi dengan satu kunci publik hanya bisa dibuka/dekripsi dengan kunci privat pasangannya.

Kunci publik akan disebarkan secara bebas dan akan digunakan oleh perangkat pengirim data untuk mengenkripsi data antar perangkat yang berkomunikasi. Kunci privat dirahasiakan dan tidak disebarkan karena akan digunakan untuk mendekripsi data yang diacak dengan kunci privat dan dikirimkan ke perangkat penerima data.

Ancaman Penyusup WiFi dan Cara MembasminyaFoto: GettyImages


KRACK vs ROCA

Mana yang lebih berbahaya, KRACK atau ROCA. KRACK memiliki cakupan yang sangat luas dan terkandung dalam hampir seluruh WiFi dunia karena standar pengamanan WPA 2 notabene merupakan standar pengamanan terbaik yang tersedia pada mayoritas perangkat WiFi yang
terpasang di seluruh dunia.

Namun untuk mengeksploitasi KRACK ada satu syarat, yaitu eksploitasi harus dilakukan dengan bergabung pada WiFi yang diserang. Sebaliknya, ROCA, meskipun memiliki cakupan tidak seluas KRACK dan 'hanya' berpotensi mengancam lebih dari 1 miliar piranti, namun ROCA memungkinkan penyerang untuk menyadap semua data yang memang terenkripsi secara remote dan menyimpan data tersebut. Lalu melakukan dekripsi terhadap data tersebut dengan kunci privat yang diekstraksi dari kunci publik.

Apa yang harus dilakukan ?

Pertanyaan terpenting tentu bukan 'Aku Ingin Pindah ke Mana ?' Tetapi apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi dua ancaman ini.

Sebenarnya pihak yang lebih berkompeten untuk mengantisipasi kelemahan KRACK adalah produsen sistem operasi, khususnya pengguna Android dan Linux memungkinkan untuk mengacaukan seluruh kunci enkripsi yang akan mengalami dampak lebih parah dibandingkan OS lainnya.

Karena itu para pengguna piranti keras disarankan untuk selalu mengupdate piranti lunak yang digunakan. Sedangkan untuk ROCA, tanggungjawab lebih kepada pihak vendor dimana Infineon, Google, HP, Microsoft, Fujitsu dan Lenovo sudah menyediakan update untuk menutupi celah keamanan ini.

Guna mendapatkan pengamanan yang lebih baik, Vaksincom menyarankan para pengguna akses
nirkabel/WiFi, terutama jika anda sering menggunakan akses nirkabel publik untuk menambahkan layer pengamanan ekstra dengan mengaktifkan VPN Virtual Private Network setiap kali menggunakan WiFi.

Pastikan VPN yang anda gunakan aman dan berkualitas karena banyak layanan VPN gratis yang jika digunakan malah menjadi sumber celah keamanan baru yang berpotensi membuka identitas dan membocorkan data anda.

Penulis, Alfons Tanujaya, praktisi keamanan internet dari Vaksincom. (rns/rns)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed