Apple Membagi Data iMessage Pengguna

Apple Membagi Data iMessage Pengguna

Adi Fida Rahman - detikInet
Jumat, 30 Sep 2016 17:34 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta - Apple selalu mengklaim melindungi data pengguna dan tidak akan membagikannya tanpa izin. Nyatanya, pembesut iPhone ini diketahui menyimpan metadata pesan milik pengguna dan membaginya dengan lembaga penegak hukum.

Aksi Apple ini diketahui dari laporan yang dirilis Intercept, tim support Departemen Hukum dan Pengawasan Digital di Florida, Amerika Serikat (AS). Mereka menemukan sebuah dokumen soal cara kerja iMessage.

Jadi, ketika pengguna memasukkan nomor telepon di iMessage, metadata secara periodik diupload ke server Apple. Proses ini untuk memeriksa apakah teks yang dibuat akan dikirimkan lewat iMessage atau SMS.

Tapi yang terupload ke server Apple tidak saja nomor telepon, tetapi juga tanggal, waktu, serta Internet Protocol (IP) milik pengguna. Inilah yang kemudian ditakutkan pihak Intercept karena berpotensi dapat digunakan untuk mengidentifikasi dengan siapa pengguna berkomunikasi lewat pelacakan IP.

Perusahaan besutan Steve Jobs itu pun langsung merespons laporan Intercept. Apple membenarkan telah merekam data pengguna selama 30 hari. Selain itu, mereka mengakui telah pernah membagi data tersebut dengan lembaga penegak hukum lewat surat perintah pengadilan.

"Ketika penegak hukum memberikan surat perintah peradilan, kami menyediakan informasi yang diminta jika berada dalam kepemilikan kami. Karena iMessage dienkripsi end-to-end, kami tidak memiliki akses ke isi komunikasi mereka," tulis juru bicara Apple seperti dikutip dari Apple Insider, Jumat (30/9/2016).

Dalam beberapa kasus, sebut Apple, mereka juga menyediakan data dari server yang diambil dari pengguna saat mengakses aplikasi tertentu dari perangkat mereka.

"Kami bekerja sama dengan penegak hukum untuk membantu mereka memahami apa yang bisa kami berikan. Tapi kami tegaskan data yang diberikan tidak mengadung isi percakapan atau membuktikan setiap komunikasi benar-benar terjadi," lanjutnya.

Pernyataan tersebut tentunya bertentangan dengan klaim Apple selama ini yang mengatakan tidak menyimpan data dan membagikannya dengan pihak lain tanpa seizin pengguna.

Apalagi jika menengok ke belakang, Apple sempat menjadi sorotan ketika mati-matian menolak permintaan FBI membuka ponsel milik tersangka teroris San Bernardino.

Tampaknya, meski Apple lebih aman dengan enkripsi end-to-end, raksasa eletronik asal Cupertino, California, AS itu tetap melakukan penyesuaian data secara reguler dengan penegak hukum dan mata-mata AS. (afr/rns)