Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kabut Asap Karhutla Menipis Usai Hujan, Begini Cara Alam Membersihkan Udara

Kabut Asap Karhutla Menipis Usai Hujan, Begini Cara Alam Membersihkan Udara


Rachmatunnisa - detikInet

Nelayan mencari ikan di Sungai Kahayan yang diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (24/10/2026). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi kelas 1 Tjilik Riwut Palangka Raya menyebutkan dampak karhutla di Kalimantan Tengah termasuk Palangka Raya tertutup asap tebal yang dipenuhi partikel dan polutan pada lapisan atmosfer sehingga langit tampak berwarna kuning dan pada Sabtu (24/10) pukul 11.00 WIB jarak pandang 100 meter. ANTARA FOTO/Auliya Rahman/nym.
Pengguna kendaraan melintas di jalanan yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (24/10/2026). Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Jakarta -

Langit di sejumlah wilayah Kalimantan mulai terlihat lebih bersih setelah hujan mengguyur kawasan yang sebelumnya diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perubahan ini membawa sedikit kelegaan bagi warga yang sudah tiga bulan menghadapi udara tercemar dan jarak pandang yang terbatas.

Secara ilmiah, hujan dapat membantu membersihkan atmosfer melalui proses yang dikenal sebagai wet deposition atau deposisi basah. Ketika tetesan air jatuh melewati udara, sebagian partikel pencemar, termasuk partikel dari asap kebakaran, dapat tertangkap dan terbawa turun ke permukaan.

[Gambas:Instagram]

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Proses ini membantu mengurangi jumlah partikel yang melayang di udara. Ketika konsentrasi partikel berkurang, jarak pandang pun berpotensi membaik. Penelitian Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB periode 2010-2019 Sutopo Purwo Nugroho yang diterbitkan dalam Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca pada 2000, membahas upaya mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada 1997.

Penelitian tersebut mengevaluasi penerapan modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan sekaligus membantu proses pembersihan asap. Studi tersebut menunjukkan adanya peningkatan jarak pandang di permukaan. Namun, peningkatan itu tidak terlalu signifikan karena konsentrasi asap sangat tinggi dan penyebarannya mencakup wilayah luas. Massa asap yang masih berada di sekitarnya dapat kembali mengisi wilayah yang sebelumnya lebih bersih.

Temuan tersebut memperlihatkan, hujan dapat membantu mengurangi dampak kabut asap, tetapi efektivitasnya sangat dipengaruhi kondisi atmosfer dan banyaknya asap yang masih dihasilkan oleh kebakaran.

Faktor lain yang menentukan kondisi kabut asap adalah angin. Arah dan kecepatannya dapat membawa polutan menjauh dari satu wilayah atau justru mengarahkannya ke permukiman lain.

Dalam penelitian oleh Erwin Mulyana yang diterbitkan di jurnal yang sama pada 2025, peneliti mengamati penyebaran polutan saat karhutla di Sumatera Selatan pada 2015, dengan menggunakan data titik panas, curah hujan, kualitas udara, karbon hitam (black carbon), serta arah dan kecepatan angin untuk menganalisis pergerakan polutan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa angin pada lapisan atmosfer yang dianalisis umumnya bertiup dari tenggara hingga timur. Akibatnya, karbon hitam dari kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir menyebar ke wilayah Musi Banyuasin dan Banyuasin.

Studi ini tidak secara khusus membuktikan seberapa besar hujan menghilangkan asap di Kalimantan. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa penyebaran polutan tidak hanya ditentukan oleh lokasi kebakaran. Kondisi angin dan curah hujan juga perlu diperhitungkan untuk memahami perubahan kualitas udara.

Artinya, ketika hujan turun, kondisi udara di suatu kota dapat membaik karena sebagian partikel tercuci oleh hujan, sementara sebagian lainnya terbawa angin. Sebaliknya, asap baru dari titik kebakaran yang masih aktif bisa kembali menyelimuti kawasan tersebut.

Namun, langit yang tampak bersih belum tentu berarti udara sudah aman untuk dihirup. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan pakar iklim mengingatkan bahwa hujan yang tidak merata belum tentu langsung meluruhkan seluruh partikel PM2.5 di udara maupun memadamkan bara api gambut yang masih melepaskan asap di bawah tanah.

PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Partikel ini tidak selalu terlihat secara kasatmata, sehingga langit yang tampak lebih cerah tidak otomatis menunjukkan konsentrasi polutan telah kembali ke tingkat aman.

Karena itu, perbaikan jarak pandang setelah hujan perlu dibarengi pemantauan kualitas udara. Warga tetap perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan pemantauan kualitas udara setempat, serta membatasi aktivitas luar ruangan ketika konsentrasi polutan masih tinggi.



(rns/afr)




Hide Ads