Bumi ternyata sempat menunjukkan tanda-tanda awal menuju zaman es baru sekitar 2.000 tahun lalu. Namun, proses tersebut akhirnya terhenti ketika pemanasan global akibat aktivitas manusia semakin intensif, terutama setelah Revolusi Industri.
Temuan ini terungkap dari penelitian terhadap sisa lapisan es Laurentide di Pulau Baffin, kawasan Arktik Kanada. Lapisan es raksasa yang dahulu menutupi sebagian besar Kanada itu diketahui sempat menyusut hingga mencapai ukuran minimum, sebelum kembali meluas ribuan tahun lalu.
Dikutip dari Ars Technica, Senin (26/10/2026) penelitian yang diterbitkan di jurnal Science menunjukkan bahwa perluasan kembali lapisan es tersebut kemungkinan dimulai sekitar 2.000 tahun lalu. Namun, tren itu berbalik sekitar 1960, ketika pemanasan akibat peningkatan gas rumah kaca membuat lapisan es kembali kehilangan massanya.
Temuan ini memberikan petunjuk baru tentang bagaimana perubahan iklim alami dan aktivitas manusia dapat memengaruhi siklus zaman es di Bumi.
Penelitian ini berpusat pada Barnes Ice Cap, lapisan es yang berada di dataran tinggi Pulau Baffin. Wilayah tersebut merupakan sisa terakhir dari salah satu kubah es Laurentide, lapisan es terbesar pada zaman Pleistosen.
Pada puncaknya, lapisan es Laurentide menutupi sebagian besar Kanada dengan ketebalan es yang mencapai sekitar 3 kilometer. Lapisan es ini juga menyimpan begitu banyak air sehingga permukaan laut global berada sekitar 80 meter lebih rendah dibandingkan jika air tersebut berada di lautan.
Ketika Bumi menghangat setelah puncak zaman es terakhir, lapisan es Laurentide menyusut. Sebagian besar lapisan es tersebut akhirnya menghilang, menyisakan Barnes Ice Cap di Pulau Baffin. Namun, penelitian terbaru menemukan bahwa penyusutan itu tidak berlangsung satu arah.
Simak Video "Video: Kenapa Musim Kemarau dan Hujan Makin Sulit Dibedakan?"
(rns/fay)