Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kebakaran Hutan Ancam Lukisan Tangan Tertua di Sulawesi

Kebakaran Hutan Ancam Lukisan Tangan Tertua di Sulawesi


Virgina Maulita Putri - detikInet

Seni cadas tertua ditemukan di Sulawesi Tenggara
Foto: Nature
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam sejumlah lukisan gua tertua di Sulawesi. Salah satunya adalah lukisan tangan tertua di dunia yang berusia lebih dari 67.000 tahun.

Di gua yang berlokasi di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, terdapat sebuah seni cadas yang menggambarkan sosok mirip manusia yang berinteraksi dengan seekor babi. Seni cadas ini diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun oleh peneliti dari Griffith University,

Di sebuah gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, terdapat cap tangan berwarna kemerahan berusia lebih dari 67.800 tahun dan diyakini sebagai seni cadas tertua di dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di dekat gua Maros-Pangkep, petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api saat asap mengepul di atas menara kapur atau karst yang menjadi ciri khas taman nasional dan UNESCO Global Geopark yang mengelilingi gua tersebut.

Pemadam kebakaran Muhammad Ikfar mengatakan api sudah membakar area di dekat gua selama lebih dari satu minggu awal bulan ini dan sudah mendekati gua hingga jarak 800 meter. Ikfar menambahkan lebih dari 270 hektar area taman nasional sudah terbakar antara periode 30 September dan 18 Oktober.

ADVERTISEMENT

"Dampak pertama dan paling merusak adalah panas. Bahkan tanpa menyentuh lukisan secara langsung, api dapat merusak karena mengubah suhu di sekitar lukisan dan mempercepat proses korosi," kata arkeolog Griffith University Basran Burhan, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (24/10/2026).

Tidak hanya panas dari api, asap dari kebakaran hutan juga menghasilkan jelaga yang dapat menutupi lukisan sehingga terlihat buram dan sulit diidentifikasi.

Pada hari Kamis dan Jumat kemarin, pemadam kebakaran masih berupaya untuk memadamkan api di bagian lain taman nasional tersebut. Saat ini kondisi di sekitar gua dan taman nasional masih kering dan belum ada hujan.

"Jika kita tidak segera melakukan sesuatu, jika tidak ada upaya mitigasi taktis untuk insiden ini, kita akan kehilangan salah satu bukti sejarah manusia yang paling menakjubkan di Maros-Pangkep," kata Basran.



(vmp/vmp)




Hide Ads