Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Dry Ice untuk Urai Asap Karhutla, Begini Cara Kerjanya

Dry Ice untuk Urai Asap Karhutla, Begini Cara Kerjanya


Rachmatunnisa - detikInet

Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Musi IV Palembang yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (4/10/2026). Berdasarkan pantauan aplikasi ISPUnet milik Kementerian Lingkungan Hidup, kualitas udara di Kota Palembng pada Minggu (4/10) masuk dalam kategori berbahaya akibat dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan nilai indeks standar pencemaran udara mencapai angka 780. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Musi IV Palembang yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (4/10/2026). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Jakarta -

Tak hanya memadamkan sumber api, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta TNI juga menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan dry ice atau es kering untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di atmosfer.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri mengatakan penggunaan dry ice dikombinasikan dengan penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl), dengan menyesuaikan kondisi atmosfer. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi konsentrasi asap yang tertahan di dekat permukaan.

"Saat ini sedang berlangsung operasi modifikasi cuaca dengan menggunakan kombinasi dry ice dengan garam untuk mengurangi tingkat polutan asap karhutla yang ada di lapisan inversi," kata Thomas dalam pemaparan 'Sinergi Kebijakan dan Aksi Cepat Tanggap Bencana Karhutla' di Amanaia Satrio, Jakarta Selatan, Rabu (21/10).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas NifinluriDirektur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri. Foto: Rachmatunnisa/detikINET

Sebelumnya, Kemenhut melaporkan pelaksanaan OMC menggunakan dry ice di Sumatera Selatan pada 16-25 Oktober 2026. Operasi tersebut melibatkan BMKG dan TNI, dengan pelaksanaan penerbangan disesuaikan dengan perkembangan cuaca dan kondisi atmosfer.

Bagaimana dry ice mengurai asap?

Dry ice merupakan karbon dioksida (COβ‚‚) dalam bentuk padat. Berbeda dari es biasa yang mencair menjadi air, dry ice mengalami sublimasi, yakni berubah langsung dari padat menjadi gas.

ADVERTISEMENT

Dalam operasi yang dijalankan pemerintah, bahan ini disemai dari pesawat untuk memengaruhi kondisi suhu dan kestabilan atmosfer, terutama pada lapisan inversi yang dapat memerangkap asap di dekat permukaan.

Lapisan inversi terjadi ketika udara yang lebih hangat berada di atas udara yang lebih dingin di dekat permukaan. Kondisi tersebut menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga asap dan polutan sulit terdispersi ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

BMKG menjelaskan penyemaian dry ice dilakukan di atas lapisan inversi. Proses sublimasi bahan tersebut memicu pendinginan dan perubahan suhu secara mendadak yang diharapkan membantu mengubah kestabilan atmosfer serta membuka kembali pergerakan udara ke atas.

Dengan pergerakan udara vertikal yang lebih baik, asap di dekat permukaan diharapkan dapat terangkat dan terdispersi (penyebaran secara merata ke dalam zat lain). Teknik ini berbeda dari modifikasi cuaca yang secara khusus bertujuan meningkatkan peluang terjadinya hujan.

BMKG menyebut lapisan asap yang terperangkap dalam kondisi tertentu dapat mencapai ketinggian sekitar 6.000-7.000 kaki, bahkan lebih. Ketika kondisi atmosfer mendukung pertumbuhan awan hujan, operasi dapat dilanjutkan atau dikombinasikan dengan penyemaian NaCl untuk mendukung proses pembentukan hujan.

Jarak pandang membaik

Kemenhut melaporkan bahwa pada hari pertama operasi, satu penerbangan menyemai sekitar 800 kilogram dry ice di sekitar Palembang. Operasi kemudian dilanjutkan dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan perkembangan atmosfer.

Berdasarkan pemantauan yang disampaikan Kemenhut dan BMKG, jarak pandang di Palembang menunjukkan perbaikan. Data yang disampaikan dalam laporan Kemenhut pada 17 Oktober menyebut jarak pandang meningkat dari sekitar 300 meter pada pukul 09.00 WIB menjadi 2.800 meter pada sore hari.

Perbaikan jarak pandang itu menjadi indikasi awal yang dipantau dalam pelaksanaan operasi. Namun, perubahan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dry ice menjadi satu-satunya faktor penyebabnya. Kondisi atmosfer, arah dan kecepatan angin, serta perkembangan asap juga perlu diperhitungkan dalam evaluasi.

Dalam pemaparannya, Thomas turut menyebut hasil evaluasi di Sumatera Selatan menunjukkan tingkat keberhasilan sekitar 40%. Ia juga menyampaikan penurunan tingkat polutan dari tingkat berbahaya menjadi sedang.

"Tingkat polutan dari 600 pada level bahaya turun sampai ke level sedang di dekat 200, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) ya, konsentrasi partikel polutan PM2.5 itu," ujarnya.

Ia menyebutkan, upaya mengurangi asap dilakukan bersamaan dengan pemadaman di lokasi kebakaran. Hal ini penting karena asap karhutla terus dihasilkan selama kebakaran masih berlangsung, termasuk ketika api tidak tampak menyala besar di permukaan.

Selain itu pemadaman kebakaran di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri. Api dapat bertahan sebagai bara di bawah permukaan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar dipadamkan.

"Dari tanggal 1 hingga tanggal 20 Oktober, berdasarkan pelaporan dari tim Manggala ini ada sekitar 99 ribu hektare, yang mampu kita tangani 30%," kata Thomas.

"Kenapa? Karena pemadaman di gambut ini beda dengan di permukaan. Karena smouldering fire, artinya baranya itu berlangsung lama, sementara pasukan kita terbatas jumlahnya," ujarnya.

Thomas menambahkan, kondisi kering dan keterbatasan sumber air juga menyulitkan petugas mencapai lokasi kebakaran. Karena itu, penanganan dilakukan melalui beberapa pendekatan sekaligus, mulai dari pemadaman darat, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca.

Ia mencontohkan dalam penanganan kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting, terdapat enam titik yang ditangani, dengan tiga titik dipadamkan melalui operasi darat dan tiga titik lainnya menggunakan water bombing.

Operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi asap menjadi salah satu dukungan terhadap penanganan tersebut. Namun, teknologi ini tidak menggantikan kebutuhan untuk memadamkan sumber api dan memastikan bara di lahan gambut benar-benar terkendali.



(rns/rns)




Hide Ads