Aktivis iklim Greta Thunberg ikut menyuarakan krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang melanda Kalimantan, Indonesia. Melalui unggahan di Instagram, ia menyerukan agar pesan mengenai kondisi di lapangan disebarluaskan kepada masyarakat internasional.
Dalam unggahan tersebut, Greta membagikan video milik aktivis pembela hak masyarakat adat Emmanuela Shinta. Mengenakan masker gas di tengah kondisi sekitar yang berwarna oranye tertutup kabut asap pekat, isi pesan video itu menegaskan bahwa krisis kebakaran dan kabut asap di Kalimantan belum berakhir. Kondisi yang terlihat di media sosial disebut belum sepenuhnya menggambarkan situasi yang dialami masyarakat di lapangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unggahan yang kemudian dibagikan di akun @gretathunberg tersebut juga menyoroti dampak kebakaran terhadap hutan, satwa liar, mata pencaharian warga, hingga kesehatan masyarakat. Warga kehilangan hutan dan pohon karet, sementara petugas pemadam kebakaran turut menghadapi risiko besar ketika berupaya memadamkan api.
Selain menyebarkan informasi, pesan itu mengajak masyarakat mendukung penggalangan dana bertajuk Borneo's Fires and Haze Crisis Fundraising Campaign. Dana yang terkumpul ditujukan untuk mendukung petugas pemadam kebakaran, membangun lebih banyak tempat perlindungan dari kabut asap, melindungi kelompok rentan, serta menyelamatkan hutan yang tersisa.
Keterlibatan Greta dalam menyebarkan pesan tersebut menambah perhatian internasional terhadap krisis karhutla di Indonesia. Aktivis asal Swedia itu dikenal melalui kampanye perubahan iklim yang mendorong pemerintah dan masyarakat dunia mengambil tindakan terhadap krisis iklim.
Krisis asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia juga menjadi perhatian media internasional. Kebakaran berkepanjangan ini telah menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernapasan dan menyebarkan kabut asap berbahaya ke sejumlah negara Asia Tenggara.
Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan hilangnya tutupan hutan. Dampaknya juga meluas ke kesehatan masyarakat, kehidupan satwa liar, mata pencaharian warga, serta kualitas udara yang melintasi batas negara.