Dua tahun lalu, sebuah robot berkaki empat berhasil menyelesaikan maraton hanya dengan sekali pengisian baterai. Jarak yang ditempuh kurang lebih 42,2 km.
Robot tersebut bernama RAIBO2. Dirinya menyelesaikan Sangju Dried-Persimmon Marathon di Korea Selatan pada 2024 dalam waktu 4 jam 19 menit. Daya tahannya ini melampaui robot anjing pada umumnya yang hanya bisa aktif satu hingga dua jam.
Pengembangnya mengatakan bahwa ini adalah robot berkaki empat pertama, yang menuntaskan acara resmi lari maraton tanpa berhenti untuk mengisi daya. Rute maraton ini mencakup dua tanjakan setinggi 50 meter, dengan kemiringan hingga 10 derajat, dilansir Live Science, Senin (12/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kata para ilmuwan, kemiringan seperti itu memberikan tekanan yang lebih besar pada sumber daya energi robot, Dengan begitu menurut mereka ini cocok untuk menguji kemampuan manajemen baterai robot.
Sebenarnya RAIBO2 telah menempuh rute sejauh 43 km yang dipandu oleh sebuah GPS di lapangan atletik. Dirinya dapat menyelesaikannya dalam waktu 4 jam 40 menit dengan sekali pengisian daya. Namun harus diakui, medannya tidak terlalu menantang seperti acara resmi Sangju Dried-Persimmon Marathon.
Oleh sebab itu, para peneliti mengujinya kembali dengan medan lari yang tidak rata bersama dengan pelari lainnya. Sayangnya mereka harus menghentikan tes ini, karena saat memasuki jarak 37 km baterai habis.
Setelah dianalisa, para pengembang mengaitkan masalah tersebut dengan perubahan kecepatan si robot. Jadi robot anjing ini mencoba menyesuaikan kecepatannya dengan pelari di sekitarnya, yang mana diduga itu juga menguras energi baterai.
Untuk mengimbangi hal tersebut, pengembang meningkatkan kapasitas baterai robot sebesar 33% dan memodifikasi sistem kontrol, termasuk menerapkannya pada kekakuan sendi di aktuator. Hal itu memungkinkan kakinya lebih fleksibel ketika harus menyerap benturan atau membutuhkan dorongan yang stabil dan kuat.
Setelah penyesuaian, RAIBO2 mampu mencapai jangkauan maksimum 67 km dengan sekali pengisian daya. Namun perlu dicatat, hasil ini dilakukannya di jalur lurus tanpa rintangan.
Oleh sebab itu, pencapaian RAIBO2 di Sangju Dried-Persimmon Marathon dinilai menjadi tonggak baru dalam mengatasi keterbatasan robot berkaki empat, yakni daya tahannya. Biasanya robot berkaki empat memang dapat melintasi medan sulit yang membuat mesin beroda kewalahan melewatinya, tetapi daya tahannya terbatas.
Keterbatasan tersebut terjadi karena robot berkaki empat menggerakkan banyak sendi sembari berulang kali mengangkat dan menstabilkan tubuh. Aktivitas itu lah yang menguras banyak energi si robot.
"Tidak seperti robot beroda, hewan berkaki empat terus-menerus mengeluarkan energi pada persendiannya untuk menopang berat badan dan mengalami kehilangan energi kinetik selama kontak kaki-tanah yang terputus-putus," tulis para peneliti dalam studi yang mereka terbitkan di jurnal Nature pada 23 September.
Para peneliti mengatakan RAIBO2 memiliki jangkauan perjalanan per pengisian daya lebih dari tiga kali lipat dibandingkan robot berkaki empat yang ada saat ini, dengan total kapasitas baterai 2.016 watt-jam. Keberhasilannya tersebut juga tak lepas dari keputusan pengembang yang pada akhirnya menambah daya tahan baterai hingga 33%.
Dalam studinya, para pengembang menambahkan bahwa daya tahan semacam itu dapat memperluas peran robot berkaki empat di tempat-tempat yang sulit dilintasi mesin beroda. Misalnya, robot tersebut dapat berguna di zona bencana dan daerah pegunungan, di mana robot yang cukup lincah dan memiliki daya tahan tinggi dapat membawa kamera, sensor, atau peralatan komunikasi untuk melintasi medan yang tidak rata.