Ketika Timnas Indonesia bertanding, suasana di media sosial dan berbagai tempat nobar bisa berubah drastis. Orang yang biasanya tidak terlalu mengikuti sepak bola pun akan ikut menonton, memakai jersey, menyanyikan lagu kebangsaan, hingga terbawa emosi ketika Garuda mencetak gol.
Kecintaan terhadap sebuah tim sepakbola bisa terasa se-ugal-ugalan itu, dan ada penjelasannya dari sisi psikologi. Salah satu konsep penting untuk memahami fenomena tersebut adalah team identification, yakni seberapa kuat seseorang merasa memiliki hubungan psikologis dengan sebuah tim.
Daniel Wann, profesor psikologi dari Murray State University, Kentucky, Amerika Serikat, yang meneliti psikologi suporter olahraga, menjelaskan bahwa menjadi penggemar dapat membantu seseorang memenuhi sejumlah kebutuhan psikologis, termasuk kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari kelompok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fandom memungkinkan orang menjadi bagian dari kelompok," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan American Psychological Association (APA).
"Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Menjadi penggemar sebuah tim memberi seseorang kesempatan untuk terhubung dengan orang lain yang memiliki ketertarikan yang sama," jelasnya.
Penelitian berjudul 'Beyond the game: exploring Indonesian football supporter identity' secara khusus melihat bagaimana identitas suporter sepak bola Indonesia terbentuk. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Soccer & Society tersebut menggunakan pendekatan etnografi dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan photo elicitation terhadap 20 partisipan.
Para peneliti menemukan tiga lapisan identitas suporter, yaitu identitas lokal, identitas terhadap tim nasional, dan identitas sebagai bagian dari fandom modern. Menariknya, penelitian tersebut menemukan bahwa stadion bukan hanya tempat pertandingan, melainkan juga makna simbolis dan berfungsi sebagai ruang ritual ketika pertandingan berlangsung.
Chant, koreografi, dan jersey juga bukan sekadar aksesori atau hiburan. Ketiganya menjadi cara suporter mengekspresikan loyalitas sekaligus identitas mereka. Peneliti menyimpulkan bahwa identitas nasional membangun narasi moral sekaligus hubungan emosional dalam budaya sepakbola Indonesia.
Timnas Jadi Identitas Diri
Semakin seseorang merasa terhubung dengan sebuah tim, semakin besar kemungkinan hasil pertandingan tersebut memengaruhi emosinya. Wann menjelaskan bahwa team identification pada dasarnya adalah seberapa jauh seorang penggemar merasa memiliki hubungan psikologis dengan tim.
"Seberapa sentral tim tersebut dan menjadi penggemarnya terhadap diri atau identitas sosial mereka," ujarnya.
Menurut Wann, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggemar dengan identifikasi yang kuat terhadap sebuah tim dapat memiliki tingkat kesepian dan isolasi sosial yang lebih rendah serta rasa memiliki dan harga diri yang lebih tinggi.
Namun, yang memberikan manfaat bukan sekadar mengetahui nama klub atau rutin menonton pertandingan. Yang penting adalah rasa menjadi bagian dari kelompok.
Ketika seseorang mengenakan jersey Timnas, misalnya, ia secara tidak langsung menunjukkan identitas yang sama dengan orang-orang lain yang mengenakan jersey tersebut. Hal serupa terjadi ketika ribuan orang menyanyikan chant yang sama di stadion atau ketika jutaan orang menggunakan simbol dan istilah yang sama di media sosial.
Ketika seseorang sudah merasa menjadi bagian dari kelompok, keberhasilan kelompok tersebut juga dapat dirasakan sebagai sesuatu yang juga menyangkut dirinya. Itulah sebabnya kemenangan Timnas dapat memunculkan rasa bangga yang jauh lebih besar daripada sekadar mengetahui hasil sebuah pertandingan.
Wann juga menjelaskan bahwa era digital menguatkan fenomena ini, karena memungkinkan seseorang mengikuti pertandingan dari mana saja sekaligus terhubung dengan penggemar lain secara online.
"Anda bisa menonton pertandingan olahraga sekarang dari mana saja di planet ini dan terhubung secara online, lalu merasa seolah-olah benar-benar menontonnya bersama orang lain," ujarnya.
Menurut Wann, perubahan tersebut membuat cara memahami hubungan antara fandom dan kesejahteraan psikologis juga ikut berkembang. Fenomena tersebut terlihat jelas ketika Timnas bertanding.
Seseorang bisa menonton pertandingan dari rumah, tetapi pada saat bersamaan membaca komentar di X, mengirim meme di WhatsApp, mengikuti live update, atau melakukan video call dengan teman yang berada di tempat berbeda. Secara fisik terpisah, tetapi secara psikologis tetap merasa berada dalam satu kelompok.
Jadi, kenapa suporter bisa begitu cinta Timnasnya? Jawabannya bukan hanya karena sepakbola menyenangkan. Bagi sebagian orang, Timnas menjadi bagian dari identitas sosial mereka. Ada rasa memiliki, kebanggaan nasional, hubungan dengan sesama suporter, ritual pertandingan, simbol berupa jersey dan warna, hingga pengalaman emosional yang dibagikan bersama.
Karena itu, ketika Timnas menang, suporter tidak hanya melihat skor, melainkan melihat kelompok yang mereka anggap sebagai bagian dari dirinya berhasil. Dan ketika Timnas kalah, rasa kecewa bisa terasa personal karena yang mengalami kekalahan bukan lagi sekadar 11 pemain di lapangan, melainkan sesuatu yang sudah terhubung dengan identitas mereka.