Startup teknologi Starcloud, yang didukung oleh Nvidia, merencanakan langkah ekstrem di industri kripto dengan memboyong aktivitas penambangan Bitcoin ke luar angkasa.
Lewat wahana antariksa Starcloud-2 yang dijadwalkan meluncur pada awal 2027, perusahaan berambisi memanfaatkan melimpahnya pasokan energi matahari di orbit bumi untuk menopang kebutuhan daya perangkat keras yang sangat masif.
Misi Starcloud-2 dan Ekosistem 'Data Center' Antariksa
Langkah Starcloud ini menjadi bagian dari visi besar mereka untuk membangun pusat data (data center) komersial berbasis energi surya di luar angkasa:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Tambang Bitcoin Komersial Perdana: CEO Starcloud Philip Johnston mengklaim Starcloud-2 akan menjadi wahana pertama yang membawa hardware penambangan kripto (ASIC) ke ruang angkasa.
- Kelanjutan Misi Starcloud-1: Sebelumnya, perusahaan telah meluncurkan satelit penguji Starcloud-1 berbobot 60 kg yang membawa chip AI Nvidia H100 pada November 2025.
- Orbit Energi Surya Nonstop: Starcloud-2 akan beroperasi di orbit sun-synchronous guna memastikan ketersediaan energi matahari tanpa henti. Konsep data center antariksa ini juga dilirik Google lewat proyek Project Suncatcher yang memanfaatkan TPU serta jaringan komunikasi optik antar-satelit.
Tantangan Ruang Hampa Udara dan Biaya Komputasi
Kendati menawarkan daya listrik gratis dari matahari, penambangan kripto di antariksa membentur sejumlah tantangan teknis dan ekonomis yang kompleks:
- Sistem Radiator Panas: Karena ruang hampa udara tidak memungkinkan proses pendinginan berbasis konveksi (aliran udara), panas dari perangkat elektronik harus dibuang menggunakan radiator inframerah khusus.
- Perbandingan Harga Perangkat: Johnston menyebutkan bahwa biaya perangkat keras ASIC mengonsumsi daya 1 kW berkisar USD 1.000 (sekitar Rp 16 jutaan), jauh lebih terjangkau dibandingkan GPU Nvidia B200 dengan konsumsi daya sama yang mencapai USD 30.000 (sekitar Rp 480 jutaan).
- Risiko Usang (Obsolete): Perangkat ASIC memiliki masa pakai dan efisiensi yang cepat usang dibanding GPU. Di sisi lain, penambang Bitcoin di bumi sudah mampu memanfaatkan sumber energi murah seperti gas buang (flare gas) dengan tarif hanya 2 hingga 3 sen per kWh.
Keberhasilan penambangan kripto di luar angkasa pada akhirnya akan sangat bergantung pada seberapa efisien biaya peluncuran, ketahanan sistem pendingin radiator, serta masa pakai operasional chip ASIC di orbit, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (24/9/2026).
