×
Ad

Fenomena Equinox Terjadi Hari Ini, Benarkah Bikin Indonesia Makin Panas?

Adi Fida Rahman - detikInet
Rabu, 23 Sep 2026 08:45 WIB
Fenomena Equinox Terjadi Hari Ini, Benarkah Bikin Indonesia Makin Panas? Foto: Getty Images/iStockphoto/Robin_Hoood
Jakarta -

Fenomena equinox atau ekuinoks terjadi hari ini, Rabu (23/9/2026). Posisi Matahari melintasi garis khatulistiwa sehingga wilayah di sekitar ekuator, termasuk Indonesia, mendapatkan penyinaran Matahari relatif maksimum. Lantas, apakah fenomena ini membuat Indonesia makin panas?

Equinox September 2026 terjadi pada pukul 07.05 WIB. Pada momen tersebut, pusat Matahari melintasi bidang khatulistiwa Bumi dalam pergerakan semunya dari belahan Bumi utara menuju selatan.

Fenomena ini terjadi dua kali setiap tahun, sekitar Maret dan September. Equinox berkaitan dengan kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat dan perjalanan Bumi mengelilingi Matahari.

Mengutip Live Science, saat equinox sumbu Bumi tidak sedang miring ke arah maupun menjauhi Matahari. Akibatnya, belahan Bumi utara dan selatan menerima jumlah sinar Matahari yang hampir sama.

Di sekitar garis khatulistiwa, Matahari juga terlihat sangat tinggi di langit. Sementara itu, equinox September menjadi penanda dimulainya musim gugur secara astronomis di belahan Bumi utara dan musim semi di belahan Bumi selatan.

Benarkah Equinox Bikin Indonesia Makin Panas?

Indonesia berada di wilayah tropis dan sebagian wilayahnya dilintasi garis khatulistiwa. Karena itu, ketika equinox berlangsung, daerah di sekitar ekuator mendapatkan penyinaran Matahari yang relatif maksimum.

Kondisi tersebut memang dapat membuat cuaca terasa terik. Namun, equinox tidak otomatis menyebabkan suhu udara di Indonesia melonjak ekstrem.

BMKG menjelaskan equinox merupakan fenomena astronomi yang berlangsung secara alamiah dan bukan fenomena gelombang panas atau heat wave. Suhu maksimum di Indonesia pada periode ini umumnya masih berada pada kisaran 32-36 derajat Celsius.

"Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrim di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama," ujar Mulyono Rahadi Prabowo, Deputi Bidang Meteorologi BMKG.

Artinya, cuaca panas yang dirasakan masyarakat tidak bisa dikaitkan dengan equinox saja. Suhu udara juga dipengaruhi kondisi atmosfer, tutupan awan, kelembapan, musim, serta fenomena iklim lainnya.

Kondisi Indonesia saat ini bahkan turut dipengaruhi El Niño sangat kuat. Analisis BMKG pada awal September 2026 menunjukkan indeks ENSO tiga bulanan mencapai 2,6. Sebanyak 80,7% zona musim di Indonesia juga masih mengalami musim kemarau.

Cuaca kering, minimnya pertumbuhan awan, dan berkurangnya hujan dapat membuat paparan sinar Matahari terasa lebih intens di sejumlah daerah.

Fenomena Equinox 2026 Foto: BMKG

Benarkah Siang dan Malam Sama Panjang?

Istilah equinox berasal dari bahasa Latin aequus yang berarti sama dan nox yang berarti malam. Namun bukan berarti durasi siang dan malam tepat 12 jam.

Live Science menjelaskan pembiasan atau refraksi cahaya Matahari di atmosfer membuat Matahari masih terlihat berada di atas cakrawala meski secara geometris sudah berada di bawahnya. Karena itu, durasi siang saat equinox sedikit lebih panjang dari 12 jam.

Di khatulistiwa, misalnya, panjang siang saat equinox sekitar 12 jam 6 menit. Pada lintang 30 derajat mencapai sekitar 12 jam 8 menit dan di lintang 60 derajat sekitar 12 jam 16 menit.

Ada pula hal menarik yang bisa diamati saat equinox. Matahari terbit hampir tepat di arah timur dan terbenam hampir tepat di arah barat.

Setelah equinox September, durasi siang secara bertahap semakin pendek di belahan Bumi utara dan semakin panjang di belahan Bumi selatan. Sementara di daerah sekitar khatulistiwa seperti Indonesia, perubahan panjang siang dan malam relatif kecil.

Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir equinox akan langsung menyebabkan panas ekstrem. Fenomena hari ini merupakan peristiwa astronomi rutin. Jika suhu terasa lebih panas, kondisi cuaca dan atmosfer yang sedang berlangsung juga perlu diperhitungkan.



Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"

(afr/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork