Langit di sejumlah wilayah Kalimantan berubah menjadi oranye hingga merah menyala. Fenomena ini terlihat dalam sejumlah unggahan warga yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi tersebut membuat langit terlihat berbeda dari biasanya. Namun, warna merah yang muncul bukan berarti atmosfer di atas wilayah tersebut berubah warna. Ada proses fisika di balik fenomena tersebut yang berkaitan dengan cahaya Matahari dan partikel asap.
Fenomena serupa juga pernah terjadi ketika karhutla melanda Jambi pada 2019. Saat itu, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Profesor Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa warna langit kemerahan berkaitan dengan hamburan Mie (Mie scattering).
"Itu disebabkan karena tebalnya asap. Cahaya Matahari tidak bisa seluruhnya menembus asap. Hanya gelombang panjang (kuning dan merah) yang bisa menembusnya, lalu dihamburkan oleh partikel-partikel asap. Jadilah langit terlihat berwarna merah kekuningan," ujar profesor Djamal, yang saat itu menjabat sebagai Kepala LAPAN.
Secara sederhana, hamburan Mie merupakan fenomena ketika cahaya dihamburkan oleh partikel yang ukurannya sebanding dengan panjang gelombang cahaya tersebut. Menurut penjelasan profesor Djamal, partikel asap halus dengan ukuran sekitar 0,5-0,7 mikron dapat menyebabkan cahaya Matahari mengalami hamburan Mie.
"Warna kuning-merah disebabkan oleh hamburan cahaya Matahari oleh partikel asap yang lebih halus dari asap putih, yaitu partikel berukuran 0,5 - 0,7 mikron," urainya.
Nama hamburan Mie berasal dari fisikawan Jerman, Gustav Adolf Feodor Wilhelm Ludwig Mie, yang mengembangkan teori untuk menjelaskan hamburan cahaya oleh partikel berbentuk bola.
Warna Lain di Atmosfer
Namun, fenomena warna langit tidak hanya berkaitan dengan hamburan Mie. Di atmosfer, cahaya Matahari juga mengalami jenis hamburan lain. Profesor Djamal menjelaskan, di atmosfer yang relatif bersih, cahaya Matahari mengalami hamburan Rayleigh (diambil dari nama penemunya Lord Rayleigh atau John William Strutt).
Proses ini terjadi ketika molekul-molekul udara menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek secara lebih kuat. Inilah salah satu alasan langit pada siang hari umumnya tampak biru.
Ketika cahaya Matahari melewati atmosfer yang dipenuhi partikel asap akibat karhutla, hamburan Mie menjadi lebih berperan. Ukuran partikel asap yang mendekati panjang gelombang cahaya menyebabkan berbagai warna cahaya mengalami hamburan dengan karakteristik berbeda sehingga langit dapat terlihat kuning, jingga, hingga merah.
Jika partikel yang berada di udara berukuran lebih besar, misalnya beberapa mikron, hamburan dapat berlangsung lebih merata pada berbagai panjang gelombang. Kondisi ini disebut hamburan nonselektif.
Akibatnya, cahaya dari berbagai warna tersebar relatif merata dan partikel di atmosfer dapat membuat asap atau kabut tampak putih atau keabu-abuan. Jadi, ketika langit Kalimantan berubah menjadi merah saat karhutla, warna tersebut merupakan efek interaksi cahaya Matahari dengan partikel-partikel di atmosfer. Semakin tebal dan pekat asap, semakin kuat pula pengaruhnya terhadap cahaya yang mencapai mata pengamat.
Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
(rns/rns)