Dari udara, kawasan ini terlihat seperti sebuah kota yang sangat luas. Namun, bangunan-bangunan yang memenuhi permukaannya bukan rumah atau gedung, melainkan makam.
Inilah Wadi-us-Salaam atau 'Lembah Perdamaian', di Najaf, Irak. Kompleks pemakaman ini membentang sekitar 9,17 kilometer persegi dan diperkirakan menjadi tempat peristirahatan 5-6 juta orang selama lebih dari 1.400 tahun.
Dikutip dari IFL Science, luasnya hampir tiga kali Central Park di New York. Guinness World Records mencatat Wadi al-Salam sebagai kompleks pemakaman terbesar di dunia.
Wadi-us-Salaam berada di pinggiran kota suci Najaf, dekat makam Imam Ali bin Abi Talib, sepupu dan menantu Nabi Muhammad serta imam pertama dalam tradisi Syiah. Lokasi tersebut menjadi salah satu alasan utama umat Muslim Syiah dari berbagai negara ingin dimakamkan di sana.
Jika dilihat dari udara, kompleks tersebut menyerupai metropolis yang membentang luas. Namun, ketika berada di permukaan, pemandangannya berubah menjadi labirin makam, gang sempit yang berkelok-kelok, batu nisan, mausoleum, dan berbagai bangunan pemakaman.
Yang membuatnya semakin unik adalah sejarah panjang penggunaannya. Wadi-us-Salaam telah digunakan sebagai tempat pemakaman secara berkelanjutan selama lebih dari 1.000 tahun dan hingga sekarang masih menerima jenazah baru. UNESCO mencatat tradisi pemakaman di kawasan tersebut telah berlangsung selama lebih dari 1.400 tahun.
Diperkirakan 5-6 juta orang telah dimakamkan di sana selama periode tersebut. Jumlah itu mencakup tokoh agama dan sejarah, raja, hingga korban konflik modern.
Wadi-us-Salaam bukan sekadar kompleks makam dengan jumlah jenazah yang sangat banyak. Lapisan pemakamannya juga merekam sejarah panjang Irak dan kawasan sekitarnya.
Di antara orang-orang yang dimakamkan di sana terdapat tokoh agama dan sejarah, termasuk Muhammad Baqir al-Sadr, ulama dan aktivis politik Irak yang dieksekusi pemerintahan Saddam Hussein pada 1980.
Di sini juga ada makam yang diyakini berkaitan dengan Hud dan Salih, dua nabi yang dihormati di agama Islam. Sejarah modern juga meninggalkan jejak yang jelas. Ada bagian pemakaman yang dikhususkan bagi mereka yang tewas dalam Perang Iran-Irak pada 1980-an, serta bagian lain untuk korban pemberontakan kelompok Syiah terhadap Saddam Hussein pada 1991.
Ketika Perang Irak mencapai puncaknya, aktivitas pemakaman di Wadi-us-Salaam bahkan meningkat drastis. Pada masa tersebut, hingga 250 jenazah dapat dimakamkan setiap hari.
Saat kelompok ISIS menguasai sebagian wilayah Irak pada 2014, angka pemakaman dilaporkan masih mencapai sekitar 200 jenazah per hari. Besarnya Wadi-us-Salaam bukan hanya karena sejarah masa lalunya. Kompleks ini merupakan pemakaman yang masih aktif.
Artinya, jutaan makam yang telah ada tidak membuat aktivitas pemakaman berhenti. Jenazah baru terus berdatangan, menjadikan kawasan tersebut seperti kota yang terus tumbuh, tetapi dengan penduduk yang telah meninggal.
Guinness World Records mencatat Wadi al-Salam telah digunakan secara berkelanjutan sejak abad ke-7. Makam-makamnya memiliki beragam bentuk, mulai dari makam sederhana hingga ruang bawah tanah, makam keluarga, dan mausoleum.
Bahkan, beberapa makam dan ruang bawah tanah dapat menampung banyak jenazah dalam satu kompleks keluarga. Karena ukurannya yang luar biasa, jumlah pasti orang yang telah dimakamkan di Wadi-us-Salaam sulit dihitung. Sumber sejarah dan penelitian sebelumnya memberikan angka yang berbeda-beda, sehingga angka 5-6 juta pun sebaiknya dipahami sebagai perkiraan, bukan sensus pasti.
Yang tidak terbantahkan adalah skalanya. Dari citra satelit NASA, Wadi-us-Salaam terlihat sebagai bentangan makam yang sangat luas di Najaf. NASA menyebut kawasan tersebut mencakup sekitar 10 kilometer persegi dan memiliki lebih dari 6 juta makam, sementara Guinness menggunakan angka luas 9,17 kilometer persegi dan menyebut jutaan jenazah.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan satu hal penting, menghitung jutaan makam yang tersebar selama lebih dari 14 abad bukan pekerjaan sederhana.
Namun, Wadi-us-Salaam tetap menjadi contoh luar biasa bagaimana satu kawasan dapat menjadi rekaman fisik perjalanan manusia selama lebih dari satu milenium, dan bahkan hingga hari ini, sejarahnya masih terus bertambah satu makam demi satu makam.
Simak Video "Temuan Arkeologi di Pompeii Ungkap Rahasia Konstruksi Romawi"
(rns/rns)