Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Slash Guns N' Roses Diabadikan Jadi Nama Spesies Ular Baru dari Papua

Slash Guns N' Roses Diabadikan Jadi Nama Spesies Ular Baru dari Papua


Adi Fida Rahman - detikInet

Nama Slash Guns N Roses diabadikan menjadi Lielaphis slashi, spesies ular baru dari hutan New Guinea yang ditemukan lewat analisis genetik.
Slash Guns N' Roses Diabadikan Jadi Nama Spesies Ular Baru dari Papua Foto: via Consequence
Jakarta -

Nama gitaris Guns N' Roses, Saul "Slash" Hudson, kini diabadikan dalam dunia herpetologi. Ilmuwan memberi nama spesies ular baru dari hutan New Guinea sebagai Lielaphis slashi, atau Slash's groundsnake.

Nama tersebut diberikan untuk menghormati Slash yang sejak kecil dikenal memiliki kecintaan terhadap reptil. Sang gitaris pun mengaku terhormat ketika mengetahui namanya digunakan untuk spesies ular baru tersebut.

"Sebagai herpephile sejak lama, saya sangat terhormat dan terharu karena Lielaphis slashi dari New Guinea diberi nama sesuai nama saya. Benar-benar menarik, saya tak pernah membayangkan momen ini akan datang," ujar Slash dikutip dari Science Daily.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Spesies baru tersebut dideskripsikan dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Zootaxa. Sara Ruane, Associate Curator of Herpetology di Field Museum sekaligus penulis senior studi, merupakan penggemar berat Guns N' Roses sejak sekolah dasar.

Kecintaan Ruane terhadap Slash bahkan bermula ketika ia berusia 12 tahun. Saat itu, ia melihat foto Slash sedang memegang ular piton retikulasi miliknya di sampul Reptiles Magazine.

Bertahun-tahun kemudian, ketika Ruane memiliki kesempatan memberi nama spesies reptil baru, ia teringat kembali pada foto dan wawancara tersebut. Menurutnya, kecintaan Slash terhadap reptil, museum, kebun binatang, dan sejarah alam membuat sang gitaris layak diabadikan melalui nama spesies.

Ular Baru Ditemukan di Hutan New Guinea

Lielaphis slashi merupakan ular berwarna cokelat kemerahan dengan panjang sekitar 71 cm. Spesimen tersebut ditemukan pada 2006 oleh Chris Austin ketika melakukan penelitian lapangan malam hari di New Guinea.

Pulau New Guinea merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Wilayahnya terbagi antara Papua, Indonesia, dan Papua Nugini. Kawasan hutannya dikenal memiliki keanekaragaman hayati tinggi yang hingga kini masih menyimpan banyak spesies yang belum terdokumentasikan.

Para ilmuwan kemudian melakukan analisis genetik untuk memastikan status ular tersebut. Hasil penelitian menunjukkan L. slashi memiliki perbedaan genetik dari spesies lain dalam genus yang sama.

Bukti tersebut diperkuat oleh perbedaan karakteristik fisik, termasuk jumlah sisik, serta pemodelan ekologi yang menunjukkan perbedaan preferensi habitat.

Meski memiliki gigi besar di bagian belakang mulut, L. slashi tidak diketahui memiliki bisa yang mampu membahayakan manusia. Ular ini diperkirakan memangsa kadal kecil dan telur reptil.

Para peneliti juga memperingatkan bahwa habitatnya menghadapi ancaman dari aktivitas manusia, termasuk pertanian kopi dan pertambangan. Penamaan resmi spesies ini dinilai penting untuk membantu ilmuwan memahami sekaligus melindungi keanekaragaman hayati New Guinea.



(afr/afr)




Hide Ads