Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak hingga ke sejumlah wilayah di Provinsi Lampung, Jakarta, dan wilayah lainnya dalam bentuk hujan abu.
Warga mengaku mulai merasakan adanya abu vulkanik yang terbawa angin. Abu terlihat menempel di sejumlah permukaan dan membuat aktivitas warga terganggu. Sebenarnya, seberapa jauh abu gunung berapi bisa tersebar?
Dikutip detikINET dari Volcano World, hal ini bergantung seberapa besar letusannya dan seberapa besar material vulkanik. Letusan besar akan melontarkan material lebih jauh. Selain itu, material berukuran besar tidak akan terlempar sejauh material yang lebih halus.
Abu vulkanik sendiri adalah campuran partikel batuan, mineral, dan kaca yang dikeluarkan dari gunung berapi saat terjadi letusan. Partikel-partikel ini berukuran sangat kecil-dengan diameter kurang dari dua milimeter. Bersama uap air dan gas panas lainnya, abu vulkanik merupakan bagian dari kolom abu pekat yang membubung di atas gunung berapi saat meletus.
Karena ukuran sangat kecil dan massa jenisnya rendah, partikel-partikel penyusun abu vulkanik dapat terbawa angin hingga jarak jauh. Saat kolom abu bergerak terbawa angin, formasi tersebut disebut sebagai semburan atau kepulan abu. Pada akhirnya, abu di udara akan jatuh ke tanah dan dapat membentuk lapisan tebal menyerupai debu.
Abu vulkanik paling halus sering terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer. Berikut beberapa poin menarik buku mengenai letusan dahsyat Krakatau tahun 1883 karya Tom Simkin dan Richard Fiske berjudul Krakatau 1883: The volcanic eruption and its effects yang memberi gambaran seberapa jauh abu dapat menyebar saat letusan besar:
* Hujan abu turun di Singapura (840 km ke arah utara), Kepulauan Cocos/Keeling (1.155 km ke arah barat daya), dan menimpa kapal-kapal yang berjarak hingga 6.076 km di sebelah barat-barat laut. Kegelapan menyelimuti Selat Sunda mulai pukul 11 pagi pada tanggal 27 hingga fajar menyingsing keesokan harinya.
* Matahari tampak berwarna biru dan hijau saat partikel abu halus dan aerosol yang terlempar hingga menembus stratosfer pada ketinggian sekitar 50 km mengelilingi garis khatulistiwa dalam waktu 13 hari.
* Tiga bulan pasca letusan, material tersebut menyebar ke garis lintang yang lebih tinggi dan menghasilkan pendar cahaya Matahari terbenam merah menyala, sedemikian pekatnya sehingga mobil pemadam kebakaran dikerahkan di New York, Poughkeepsie, dan New Haven untuk memadamkan apa yang dikira sebagai kebakaran hebat. Pemandangan Matahari terbenam yang tidak biasa ini terus berlanjut selama 3 tahun.
* Selubung debu vulkanik yang menciptakan efek atmosfer spektakuler ini juga bertindak sebagai penyaring radiasi matahari, menurunkan suhu global hingga 1,2 derajat C pada tahun berikutnya pasca letusan. Suhu Bumi tidak kembali normal hingga tahun 1888.
Simak Video "Video Desa Boru NTT Diserbu Kerikil Usai Lewotobi Laki-laki Meletus"
(fyk/fay)