Suara dentuman dan getaran yang terdengar di Bandung Raya dan sejumlah wilayah Jawa Barat bikin geger warga. Gunung Anak Krakatau yang tengah mengalami erupsi kemudian diduga menjadi salah satu sumber suara misterius tersebut.
Namun muncul pertanyaan, bagaimana suara erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda bisa terdengar hingga Bandung, bahkan daerah di pantai utara Jawa yang berjarak ratusan kilometer?
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati, menjelaskan fenomena tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Erupsi gunung api tertentu dapat melepaskan energi akustik sangat besar sehingga suaranya mampu merambat hingga ratusan kilometer.
"Ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar. Dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer," kata Rita dalam konferensi pers, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Rita, fenomena tersebut tidak hanya ditemukan di Anak Krakatau. Sejumlah erupsi gunung api di Indonesia maupun luar negeri menunjukkan suara letusan dapat terdengar sangat jauh dari sumbernya.
Erupsi Lava Fountain Lepaskan Energi Akustik Besar
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari. Erupsi tersebut memperlihatkan semburan merah menyala yang menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Menurut Badan Geologi, aktivitas ini berlangsung selama beberapa jam dan disertai suara gemuruh. Tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati, tetapi semburan lava terlihat jelas secara terus-menerus.
Rita mengatakan erupsi dengan karakteristik tertentu seperti lava fountain dapat menghasilkan suara dentuman nyaring.
"Kalau tipe fountain ini memang biasanya disertai dentuman yang nyaring," ujarnya.
Energi akustik yang dihasilkan kemudian dapat merambat melalui atmosfer dalam jarak sangat jauh. Berdasarkan laporan yang diterima PVMBG, suara pada kejadian kali ini bahkan dilaporkan terdengar di sejumlah daerah hingga pantai utara Jawa dan Bandung.
"Dugaan kuatnya memang itu berhubungan dengan Gunung Api Anak Krakatau. Walaupun kita perlu mencocokkan data terlebih dahulu," jelas Rita.
PVMBG perlu mencocokkan waktu terjadinya erupsi dengan waktu ketika masyarakat mendengar dentuman dan merasakan getaran untuk memastikan sumbernya.
Bukan Pertama Kali Suara Erupsi Terdengar Ratusan Kilometer
Fenomena suara erupsi yang merambat sangat jauh bukan pertama kali terjadi di Indonesia.
Rita mencontohkan erupsi eksplosif Gunung Kelud pada 13 Februari 2014. Suara dentumannya ketika itu dapat terdengar hingga Yogyakarta dan sejumlah wilayah Jawa Tengah yang letaknya jauh dari sumber erupsi.
PVMBG juga mencatat kejadian serupa saat Anak Krakatau mengalami erupsi pada April 2020. Ketika itu, suara dentuman dilaporkan terdengar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Pencocokan yang dilakukan PVMBG menunjukkan waktu laporan dentuman tersebut berkesesuaian dengan erupsi Anak Krakatau pada 10 April 2020 pukul 21.58 WIB dan 22.35 WIB.
Namun kesamaan waktu tersebut tidak otomatis membuktikan Anak Krakatau sebagai sumber suara. PVMBG menegaskan korelasi waktu masih harus didukung data lain untuk memastikan asal dentuman.
Bagaimana dengan Gempa Tektonik?
Kemunculan dentuman dan getaran di Bandung juga memunculkan kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan aktivitas tektonik di Jawa Barat.
Rita mengatakan, berdasarkan informasi yang dimiliki PVMBG saat konferensi pers berlangsung, belum ada laporan gempa tektonik di Jawa Barat yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.
"Getaran tersebut memang kemungkinan bukan berasal dari gempa tektonik karena tidak dilaporkan, saat ini tidak terlaporkan terjadi gempa tektonik di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya," kata Rita.
Karena itu, PVMBG menduga fenomena yang dilaporkan warga lebih mungkin berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau yang terjadi pada waktu bersamaan. Kendati demikian, sumber dentuman belum dinyatakan secara pasti.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga, status yang berlaku sejak 2 Juli 2026. Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan dan pengunjung tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari pusat aktivitas gunung.
Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.
Simak Video "Video: Nasib Warga Sekitar Gunung Sinabung Pasca Erupsi"
(afr/afr)