Pemandangan gurun Madinah yang mendadak dialiri air setelah diguyur hujan deras selama tiga hari ramai dibicarakan di media sosial. Sejumlah netizen mengaitkan fenomena tersebut dengan hadis tentang Jazirah Arab yang kembali menjadi padang rumput dan sungai, bahkan menyebutnya sebagai tanda kiamat.
Namun, dari sisi sains, munculnya aliran air di kawasan gurun setelah hujan deras sebenarnya dapat dijelaskan melalui proses hidrologi. Hujan dalam jumlah besar yang turun dalam waktu singkat dapat menghasilkan limpasan air di permukaan dan memenuhi saluran-saluran alami yang biasanya kering.
Dikutip dari Arab News, sejumlah wilayah Madinah diguyur hujan selama sekitar tiga hari, dengan intensitas paling tinggi terjadi pada Jumat (28/8). Di beberapa lokasi, derasnya hujan membuat air mengalir di permukaan gurun hingga membentuk aliran menyerupai sungai. Sebagian kawasan bahkan mengalami banjir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengemudi kendaraan off-road, Jawaher Shaheen, mengatakan dirinya dan sang suami mengunjungi beberapa lokasi di sekitar Madinah ketika hujan turun. "Lokasi kedua adalah Al-Furaish, tempat hujan turun lebih deras. Karena intensitasnya, air banjir mulai mengalir," kata Shaheen.
Perjalanan menuju sejumlah lokasi tersebut memakan waktu sekitar satu jam. Di beberapa tempat, hujan deras berlangsung selama 15-30 menit sebelum kemudian melemah menjelang Matahari terbenam.
Mengapa Gurun Bisa Dialiri Air?
Salah satu faktor penting dalam fenomena ini adalah kemampuan tanah menyerap air. Kawasan gurun yang kering tidak berarti seluruh air hujan akan langsung meresap ke dalam tanah. Kemampuan infiltrasi dipengaruhi berbagai faktor, antara lain jenis material permukaan, struktur tanah, batuan, hingga kondisi permukaan tanah.
Ketika air hujan turun lebih cepat daripada kemampuan tanah untuk menyerapnya, sebagian air berubah menjadi limpasan permukaan (surface runoff). Air kemudian bergerak mengikuti kemiringan permukaan menuju wilayah yang lebih rendah.
Aliran tersebut dapat terkumpul di cekungan maupun saluran alami sehingga terlihat seperti sungai. Gurun juga memiliki sistem drainase alami berupa wadi, yakni lembah atau saluran yang umumnya kering tetapi dapat dialiri air ketika hujan turun dalam jumlah besar.
Itulah sebabnya lanskap gurun dapat berubah drastis dalam waktu relatif singkat. Wilayah yang sebelumnya kering dan tandus dapat dipenuhi aliran air setelah hujan deras.
Hujan membawa kelembapan ke lingkungan yang sebelumnya sangat kering. Jika curah hujan cukup dan terjadi dalam periode tertentu, air yang tersimpan di tanah dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan.
Namun, gurun tidak otomatis langsung berubah menjadi hijau setelah hujan. Perubahan vegetasi bergantung pada jumlah dan distribusi hujan, kondisi tanah, serta keberadaan benih dan tumbuhan yang mampu memanfaatkan air tersebut.
National Center for Meteorology Arab Saudi sebelumnya memperkirakan potensi badai petir yang disertai hujan es di sejumlah wilayah, termasuk Madinah, Makkah, Jazan, Asir, dan Al-Baha.
Dengan demikian, hujan yang mengubah lanskap gurun tersebut lebih tepat dilihat sebagai bagian dari variabilitas cuaca, bukan bukti bahwa iklim Madinah secara tiba-tiba berubah menjadi wilayah basah.
Majed Al-Sahoubi, spesialis astronomi yang mempelajari hubungan antara bintang, musim, dan cuaca, membahas kemunculan Suhail, bintang yang secara tradisional digunakan masyarakat Arab sebagai penanda perubahan musim. Menurutnya, kemunculan Suhail tidak menyebabkan hujan.
"Suhail merupakan tanda bahwa kondisi mulai membaik, tetapi bintang itu sendiri tidak memengaruhi atau mengubah cuaca," ujarnya.
Al-Sahoubi juga menjelaskan bahwa curah hujan di kawasan gurun pada periode tersebut umumnya tidak teratur. Sementara periode hujan yang lebih konsisten di sejumlah wilayah diperkirakan baru dimulai sekitar pertengahan Oktober.